PEMBELAJARAN PAI MELALUI PENDEKATAN KONTEKTUAL
PEMBELAJARAN
PAI MELALUI PENDEKATAN KONTEKTUAL PADA SMP ISLAM AR-RIFAIYAH
JULUK
SARONGGI SUMENEP
Diajukan
untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Genap Materi PPL I
Dosen
Pengampu : Nuryatim Hadi Saputra, M.Pd

Sekolah
Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni
(STITA)
Tarate
Pandian Sumenep
2012
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat serta Karunia-Nya
kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah
tepat pada waktunya yang berjudul “Pembelajaran PAI Melalui Pendekatan
Kontektual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep”.
Makalah ini berisikan
tentang Pembelajaran PAI pada Lembaga Sekolah yang menggunakan pendekatan
Kontektual, yakni penerapan Pembelajaran Cooperatif Teaching and Learning (CTL)
yang mana siswa di bawa langsung pada kehidupan nyata di sekitar lingkungannya.
Diharapkan Makalah
ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Penerapan Metode
Kontektual. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami
sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.
Sumenep, Juni 2012
Penulis
DAFTAR
ISI
|
Cover
.............................................................................................................
|
i
|
|
Halaman Sampul ........................................................................................
|
ii
|
|
Kata Pengantar
............................................................................................
|
iii
|
|
Daftar Isi .......................................................................................................
|
iv
|
|
Bab I Pendahuluan
.....................................................................................
|
1
|
|
1.1.
Latar
Belakang Masalah .....................................................................
|
1
|
|
1.2.
Ruang
Lingkup Masalah
....................................................................
|
|
|
1.3.
Batasan
Masalah
..................................................................................
|
|
|
1.4.
Rumusan
Masalah
...............................................................................
|
|
|
1.5.
Tujuan
Pembahasan
............................................................................
|
|
|
1.6.
Manfaat
Penulisan ...............................................................................
|
|
|
Bab II Kajian Pustaka
..................................................................................
|
|
|
2.1.
|
|
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang Masalah
Rumusan
tujuan pendidikan nasional dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional
berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Salah
salah satu ciri manusia berkualitas dalam rumusan UU No. 20 Tahun 2003 di atas
adalah mereka yang tangguh iman
dan takwanya serta memiliki akhlak mulia. Dengan demikian salah satu ciri kompetensi keluaran pendidikan nasional adalah ketangguhan
dalam iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia. Menurut
Tafsir (2002), bagi umat Islam, dan khususnya dalam pendidikan Islam,
kompetensi iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia
tersebut sudah lama disadari kepentingannya, dan sudah
diimplementasikan dalam lembaga pendidikan Islam.
Dalam
pandangan Islam, kompetensi iman dan
takwa (imtak) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), juga akhlak mulia diperlukan oleh manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai
khalifah di muka bumi. Jadi, dalam pandangan Islam, peran
kekhalifahan manusia dapat direalisasikan melalui tiga hal tersebut.
Dengan
demikian, menurut Wahid (2007), dalam Islam tidak dikenal dikotomi antara imtak
dan iptek, namun justru
sebaliknya perlu keterpaduan antara keduanya, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah
sesungguhnya tidak membedakan antara ilmu agama Islam dengan
ilmu-ilmu umum. Yang ada dalam Al-Qur’an adalah ilmu.
Pembagian adanya ilmu agama Islam dan ilmu umum merupakan hasil kesimpulan manusia yang mengidentifikasi ilmu berdasarkan sumber
objek kajiannya.
Ilmu-ilmu
tersebut pada hakikatnya berasal dari Allah SWT, karena sumber ilmu tersebut
berupa wahyu, alam jagat raya,
manusia dengan perilakunya, alam pikiran, dan institusi batin seluruhnya
ciptaan Allah yang diberikan kepada manusia. Dengan demikian
para ilmuwan dalam berbagai bidang keahlian tersebut
sebenarnya bukanlah pencipta ilmu, tapi penemu ilmu, penciptanya adalah Tuhan. Atas dasar paradigma tersebut, seluruh ilmu hanya dapat
dibedakan dalam nama dan istilahnya, sedangkan hakikat
dan substansi ilmu tersebut sebenarnya satu dan berasal dari Tuhan. Atas
dasar pandangan ini, maka tidak ada dikotomi yang mengistimewakan antara satu
ilmu dengan ilmu yang lainnya.
Dikotomi
antara ilmu agama Islam dengan ilmu umum pun terjadi dalam dunia pendidikan.
Pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah dianggap sebagai
representasi ilmu agama Islam, sedangkan
pelajaran-pelajaran lainnya dianggap sebagai ilmu-ilmu umum. Akibat dari itu
semua adalah adanya beban yang sangat berat bagi guru
yang mengajar pelajaran pendidikan agama Islam, yaitu
seolah-olah sebagai penanggung jawab ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai
dengan doktrin agama.
Berkaitan
dengan pengembangan imtak dan akhlak mulia maka yang perlu dikaji lebih lanjut
ialah peran pendidikan agama, sebagaimana dirumuskan dalam UU
No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan keagamaan berfungsi
mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang
memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan atau menjadi ahli ilmu
agama. Pendidikan keagamaan merupakan salah satu bahan kajian
dalam semua kurikulum pada semua jenjang pendidikan,
mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. Pendidikan Agama merupakan
salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti oleh peserta didik bersama dengan
Pendidikan Kewarganegaraan dan yang lainnya.
Tantangan
yang dihadapi dalam Pendidikan Agama, khususnya Pendidikan Agama Islam
sebagai sebuah mata pelajaran adalah bagaimana
mengimplementasikan pendidikan agama Islam bukan hanya
mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana mengarahkan peserta didik agar memiliki kualitas iman, taqwa dan akhlak mulia.
Dengan demikian materi pendidikan agama bukan hanya
mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana membentuk kepribadian siswa agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang
kuat dan kehidupannya senantiasa dihiasi dengan akhlak
yang mulia dimanapun mereka berada, dan dalam
posisi apapun mereka bekerja.
Maka
saat ini yang mendesak adalah bagaimana usaha-usaha yang harus dilakukan oleh
para guru Pendidikan Agama Islam
untuk mengembangkan metode-metode pembelajaran yang dapat memperluas pemahaman peserta didik mengenai ajaran-ajaran agamanya,
mendorong mereka untuk mengamalkannya dan sekaligus dapat
membentuk akhlak dan kepribadiannya.
Salah
satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam adalah dengan
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL).
Meskipun masih dijumpai beberapa problema dalam pelaksanaannya tetapi ini
merupakan salah satu alternatif model dalam pengembangan pembelajaran PAI di sekolah.
1.2.Ruang
Lingkup Masalah
Sebagaimana
telah dibahas pada latar belakang diatas, bahwa salah satu alternatif yang bisa
kita pakai pada pembelajaran PAI adalah Metode Kontektual, dimana siswa dihadapkan
pada kehidupan nyata, yakni menghubungkan pelajaran yang terdapat pada buku
pelajaran dengan kenyataan yang bisa dilalui oleh siswa.
Sebagai
guru tentunya harus bisa memahami metode ini, sehingga diharapkan bisa maksimal
dalam membimbing peserta didik yang diasuhnya, maka proses-proses yang ada
dalam pembelajaran PAI digunakan sebaik mungkin sehingga ketercapaian peserta
didik melaksanakan metode ini.
Ruang
lingkup untuk membahas makalah ini penulis membahas dengan jelas metode ini
sehingga diharapkan bisa memberi pengertian yang maksimal pada pembaca, selain
itu dalam makalah ini dibahas bagaimana pelaksanaan metode kontektual pada
lembaga sekolah sekaligus bagaimana proses serta hasil dari penerapan ini pada lembaga
sekolah.
1.3.Pembatasan
Masalah
Makalah
ini akan akan dibatasi pada beberapa masalah yang ada diatas. Adapun batasan
masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
a.
Pelaksanaan
pendekatan kontekstual dalam pembelajaran PAI
b.
Proses
pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah
Juluk Saronggi Sumenep
c.
Hasil
pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah
Juluk Saronggi Sumenep
1.4.Rumusan
Masalah
Dengan
uraian di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah pada makalah ini sebagai
berikut :
a.
Bagaimana
pelaksanaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran PAI?
b.
Bagaimana
proses pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual pada SMP Islam
Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep?
c.
Bagaimana
hasil pembelajaran PAI melalui pendekatan kontektual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah
Juluk Saronggi Sumenep?
1.5.Tujuan
Pembahasan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas maka penulisan makalah ini bertujuan untuk
a.
Meningkatkan
serta mengetahui pelaksanaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran PAI
b.
Meningkatkan
proses pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual pada SMP Islam
Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep
c.
Meningkatkan
hasil pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual pada SMP Islam Juluk
Saronggi Sumenep
1.6.Manfaat
Penulisan
Adapun
manfaat yang dapat penulis sampaikan terbagi dalam manfaat praktis dan
teoretis.
a.
Manfaat
Teoretis
Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan
keagamaan, terutama dalam kegiatan keseharian peserta didik dilingkungannya.
b.
Manfaat
Praktis
1.
Bagi
Siswa
Memudahkan siswa
dalam berlatih dan belajar ilmu keagamaan serta mentransformasikannya pada
kehidupan nyata melalui pendekatan kontekstual.
2.
Bagi
Guru
a)
Menawarkan
inovasi cara pembelajaran PAI.
b)
Memotivasi
siswa dalam kegiatan beribadah sehari-sehari.
c)
Meningkatkan
kualitas mata pelajaran PAI
3.
Bagi
Sekolah
Meningkatkan kualitas
pembelajaran PAI baik proses ataupun hasil sehingga menghasilkan kualitas siswa
yang baik pula di sekolah tersebut.
4.
Bagi
Penulis
Dengan ini penulis memperoleh
pengalaman dan wawasan pembelajaran PAI di sekolah. Dari hasil pengalaman
langsung tersebut, penulis dapat melakukan kajian-kajian lebih lanjut untuk
menyusun suatu rancangan pembelajaran PAI dengan pendekatan kontekstual.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
2.1.
Pendekatan Kontekstual
Sampai saat ini, pendidikan di
Indonesia masih didominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai utama
pengetahuan, sehingga ceramah akan menjadi pilihan utama dalam menentukan
strategi belajar. Sehingga sering mengabaikan pengetahuan awal siswa. Untuk itu
diperlukan suatau pendekatan belajar yang memberdayakan siswa. Salah satu
pendekatan yang memberdayakan siswa dalah pendekatan kontekstual (CTL).
Menurut Muslich (2007:41)
pembelajaran kontekstual atau contextual
teaching and learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Lebih lanjut Komalasari
(2010:7) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah pendekatan
pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan
nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat
maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi
kehidupannya.
Tugas guru dalam pembelajaran
kontekstual adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru
lebih berurusan dengan trategi daripada memberi informasi. Guru hanya megelola
kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi
siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai Student centered daripada teacher
centered.
Dalam pengajaran kontekstual
memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating),
mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating)
dan mentransfer (transferring).
1.
Mengaitkan
adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru
menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang
sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui
siswa dengan informasi baru.
2.
Mengalami
merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan
informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat
terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta
melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3.
Menerapkan.
Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah.
Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan
relevan.
4.
Kerjasama.
Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang
signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat
mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama
tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan
dunia nyata.
5.
Mentransfer.
Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada
pemahaman bukan hapalan.
Menurut Blanchard, ciri-ciri
kontekstual: 1) Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah. 2) Kegiatan
belajar dilakukan dalam berbagai konteks 3) Kegiatan belajar dipantau dan
diarahkan agar siswa dapat belajar mandiri. 4) Mendorong siswa untuk
belajar dengan temannya dalam kelompok atau secara mandiri. 5) Pelajaran
menekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda. 6) Menggunakan
penilaian otentik
2.2.
Pembelajaran PAI
Istilah PAI yang kita kenal pada
dasarnya mencakup Metode,
Media & Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Oleh
karenanya, pada makalah ini kita akan membahas 3 pokok dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam, yaitu metode, media dan strategi. Ke tiga hal pokok
tersebutlah yang seharunya diketahi dalam memahami Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam.
Sebelum mengarah pada pembahasan fokus
kita mengenai Metode, Media & Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam, ada beberapa ilmu dasar terkait pembahasan ini, diantaranya adalah pengertian
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam.
1.
Pengertian Pembelajaran PAI
Menurut salah seorang pakar PAI di
Indonesia, Prof. Dr. H. Abd. Majid, MA, bahwa Pengertian Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam
meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan
berupa bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan
untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam
masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.
Adapun menurut undang-undang UUSPN
No.2/1989 pasal 39 ayat 2 menyebutkan bahwa pembelajaran pendidikan agama
Islam merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap tuhan
Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang
bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama dalam hubungan
kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan
persatuan nasional.
2. Tujuan
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Masih dari sumber pakar di atas, bahwa pembelajaran
pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, keimanan,
penghayatan, pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi
manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. serta berakhlah
mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Atau bila dibuat dalam bentuk poin-poin,
maka tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam dapat dirinci sebagai
berikut :
a. Memperkuat iman dan taqwa
b. Menghormati agama lain
c. Memelihara kerukunan antar umat
beragama
d. Mewujudkan persatuan nasional
Tiga hal pokok yang seharusnya diketahi
dalam memahami Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
1. Metode
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Dalam menerapkan metode pembelajaran
pendidikan agama Islam ada 4 metode yang umumnya dilakukan oleh seorang
pengajar, diantaranya :
a.
Metode
ceramah, resitasi, atau proyek. Khusus pada Metode Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam ini, maka Metode ini digunakan khusus pada bahan mata pelajaran
yang memerlukan pengamatan.
b.
Metode
demonstrasi dan dril. Jika suatu pembelajaran yang bahannya memerlukan
keterampilan atau gerakan tertentu maka metodenya menggunakan demonstrasi
ataupun dril.
c.
Metode
pemberian tugas dan tanya jawab. JIka dalam mata pelajaran terdapat bahan yang
mengandung materi hafalan, maka metodenya berupa pemberian tugas ataupun tanya
jawab.
d.
Metode
sosio drama/bermain peran dan service project. Terkadang ada bahan yang
mengandung unsur emosi, sehingga dianjurkan metode pembelajaran pendidikan
agama Islamnya dengan metode sosiodrama/bermain peran dan service project.
2. Media
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Media pembelajaran merupakan bagian
integral dari sebuah proses pendidikan di sekolah. Secara harfiah media berarti
perantara atau pengantar atau wahana atau pun penyaluran pesan atau informasi
belajar. Pengertian secara harfiah ini menunjukkan bahwa media pembelajaran
Pendidikan Agama Islam merupakan wadah dari pesan yang disampaikan oleh sumber
yaitu guru kepada sasaran atau penerima pesan yaitu siswa yang belajar
pendidikan agama Islam.
Secara khusus, media pembelajaran Agama
Islam adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka mengefektifkan
komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran PAI di
sekolah. Sedangkan tujuan penggunaan media pembelajaran PAI tersebut adalah supaya
proses pembelajaran PAI dapat berlangsung dengan baik. Seperti telah disinggung
di awal, media pembelajaran pendidikan agama Islam merupakan wadah dari pesan
yang disampaikan oleh guru kepada siswa yang belajar Pendidikan Agama Islam.
Dari jenisnya media pembelajaran ini dapat diklasifikasikan menjadi
Dari jenisnya media pembelajaran ini dapat diklasifikasikan menjadi
a. Media Audio
b.
Media
Cetak
c.
Media
Elektronik.
3. Strategi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh seorang guru maka ada
beberapa strategi pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) maka ada beberapa
strategi yang harus diterapkan, yaitu :
a. Mengidentifikasikan dan menetapkan
spesifikasi serta kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik
pengajar.
b. Terlebih dahulu memilih sistem
pendekatan belajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup anak didik pengajar
c. Menetatapkan prosedur, metode dan
teknik pembelajaran yang dianggap paling tepat sehingga dapat dijadikan
pegangan dalam kegiatan mengajar guru.
d. Memberikan batasan norma-norma dan
batas minimal standar keberhasilan kemudian dijadikan pedoman dalam melakukan
evaluasi dari hasil belajar siswa.
Dalam mencapai tujuan pembelajaran
perlu menyusun strategi yang optimal, diantaranya:
a. Dengan strategi pembelajaran secara
langsung.
b. Dengan strategi pembelajaran melalui
diskusi.
c. Dengan strategi pembelajaran dengan
membentuk kelompok kecil.
d. Dengan strategi pembelajaran
cooperative learning.
e. Dengan strategi pembelajaran melalui
problem solving.
2.3.
Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran PAI
Dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam, penguasaan guru akan materi dan pemahaman
mereka dalam memilih metode yang tepat untuk materi tersebut
akan sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan
pembelajaran. Salah satu metode yang saat ini dianggap tepat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah melalui pendekatan
kontekstual.
Salah satu unsur
terpenting dalam penerapan pendekatan kontekstual adalah pemahaman guru
untuk menerapkan strategi pembelajaran kontekstual di dalam
kelas. Akan tetapi, fenomena yang ada menunjukkan
sedikitnya pemahaman guru-guru PAI mengenai strategi ini. Oleh karena itu
diperlukan suatu model pengajaran dengan menggunakan
pembelajaran kontekstual yang mudah dipahami dan
diterapkan oleh para guru Pendidikan Agama Islam di dalam kelas secara sederhana.
Pembelajaran kontekstual
didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) dalam (Badruzaman, 2006).
yang menyimpulkan bahwa siswa
akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang akan
terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan
pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan
dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok.
Jawahir (2005)
mengemukakan bahwa guru PAI dapat menggunakan strategi pembelajaran
kontekstual dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut,
yaitu:
1. Memberikan kegiatan
yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual
siswa
2. Lebih mengaktifkan
siswa dan guru
3. Mendorong berkembangnya kemampuan baru
4. Menimbulkan jalinan
kegiatan belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat.
Melalui pembelajaran ini,
siswa menjadi lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan
ketrampilan di kehidupan nyata sehingga memiliki motivasi tinggi
untuk belajar.
Beberapa hal yang harus diperhatikan para guru
Pendidikan Agama Islam dalam mengimplementasikan
pendekatan kontestual, menurut Humaidi (2006) adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran Berbasis
Masalah
Langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah
mengobservasi suatu fenomena, misalnya :
a.
Menyuruh
siswa untuk menonton VCD tentang kejadian manusia, rahasia Ilahi, Takdir Ilahi,
tentang Alam Akhirat, azab Ilahi , dan sebagainya;
b.
Menyuruh
siswa untuk melaksanakan shaum pada
hari senin dan kamis, membayar zakat ke BAZ, mengikuti sholat berjamaah di
masjid, mengikuti ibadah qurban, menyantuni fakir miskin dan
sebagainya.
Langkah kedua yang dilakukan oleh guru adalah
memerintahkan siswa untuk mencatat permasalahan-permasalahan
yang muncul, misalnya;
a.
Setelah
menonton VCD atau mendengarkan
kisah-kisah Al Qur`an, siswa diharuskan membuat catatan tentang pengalaman
yang mereka alami, melalui diskusi dengan teman-temannya;
b.
Setelah
mengamati dan melakukan aktivitas keagamaan
siswa diwajibkan untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul serta mereka dapat mengungkapkan perasaannya kemudian
mendiskusikan dengan teman sekelasnya.
Langkah
ketiga tugas guru Pendidikan Agama Islam adalah merangsang siswa untuk berpikir
kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada.
Langkah
keempat guru diharapkan mampu untuk memotivasi siswa agar mereka berani
bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan pendapat yang berbeda dengan
mereka.
2.
Memanfaatkan
Lingkungan Siswa untuk Memperoleh Pengalaman Belajar.
Guru memberikan penugasan kepada siswa untuk melakukan
kegiatan yang berhubungan dengan konteks
lingkungan siswa, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Hal ini
dapat dilakukan dengan memberikan penugasan kepada siswa
di luar kelas. Misalnya mengikuti sholat berjamaah,
mengikuti sholat jum`at, mengikuti kegiatan ibadah qurban dan berkunjung ke
pesantren untuk mewawancarai santri atau ustadz yang berada di
pesantren tersebut.
Siswa diharapkan
dapat memperoleh pengalaman langsung dari kegiatan yang mereka lakukan mengenai materi yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan
aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka
penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi
pembelajaran.
3. Memberikan Aktivitas Kelompok
Di dalam kelas guru PAI diharapkan dapat melakukan
proses pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok belajar. Siswa di bagi kedalam beberapa kelompok
yang heterogen. Aktivitas pembelajaran kelompok dapat
memperluas perspektif dan dapat membangun kecakapan
interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh guru dalam mempraktekan metode ini adalah:
a.
Mendatangkan
ahli ke kelas, misalnya
Tokoh Agama, Santri atau Ulama dari pesantren,
b.
Bekerja
dengan kelas sederajat,
c.
Bekerja
dengan kelas yang ada di atasnya.
4. Membuat Aktivitas Belajar Mandiri
Melalui aktivitas ini, peserta didik mampu mencari,
menganalisis dan menggunakan informasi sendiri dengan sedikit bantuan atau bahkan tanpa bantuan guru. Supaya
dapat melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan
bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka
peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus
mengikuti uji-coba terlebih dahulu; menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi; serta berusaha tanpa meminta bantuan
guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara
mandiri (independent learning).
5. Menyusun Refleksi
Dalam melakukan refleksi, misalnya ketika pelajaran
berakhir siswa merenungkan kembali pengalaman
yang baru mereka peroleh dari pelajaran tentang sholat berjama`ah, puasa senin
dan kamis, membayar zakat, menyantuni fakir miskin, dan seterusnya.
Melalui perenungan ini, siswa dapat lebih menemukan kesadaran
dalam dirinya sendiri tentang makna ibadah yang mereka
lakukan dalam hubungan mereka sebagai hamba Allah dan dalam hubungan mereka sebagai makhluk sosial.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1.
Pelaksanaan Pembelajaran PAI Melalui
Pendekatan Kontekstual
Langsung dalam proses
pemahaman dan mengkonstruksi sendiri konsep atau pengetahuan tersebut.
Model ini bisa dilakukan baik secara perorangan maupun kelompok.
Agar pelaksanaan penemuan terbimbing berjalan dengan efektif, ada
10 langkah yang ditempuh oleh guru Pendidian Agama Islam adalah sebagai berikut
:
1.
Merumuskan
masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya,
yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan. Perumusan harus jelas,
hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh
siswa tidak salah. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui
kegiatan tersebut perlu ditulis dengan jelas.
2.
Diskusi
sebagai pengarahan sebelum siswa melakukan kegiatan.
Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan
kegiatan.
3.
Dari
data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses,
mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru
dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya
mengarahkan siswa untuk melangkah kearah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan,
atau LKS.
4.
Kegiatan
metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/membaca
literatur untuk menemukan konsep-konsep
atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
5.
Siswa
menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
6.
Bila
dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut diperiksa oleh guru. Hal ini penting di
lakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah
yang hendak dicapai.
7.
Proses
berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya
mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan. Apabila telah
diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi
konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya. Disamping
itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100 % kebenaran konjektur.
8.
Setelah
siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru
menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil
penemuan itu benar.
9.
Perlu
dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada
kegiatan yang dilakukan siswa.
10.
Ada
catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan factor-faktor yang dapat mempengaruhi
hasil terutama kalau penyelidikan mengalami
kegagalan atau tak berjalan sebagaimana
mestinya.
3.2.
Proses Pembelajaran PAI Melalui Pendekatan Kontekstual pada SMP Islam
Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep
Dalam melakukan pengamatan ini penulis
menggunakan cara pendekatan langsung dengan siswa, kegiatan awal yang penulis
lakukan adalah menggantikan guru mata pelajaran PAI dengan minta izin terlebih
dahulu untuk menerapkan pendekatan ini. Kegiatan dilakukan dengan mengacu pada
tahapan pelaksanaan pembelajaran PAI melalui metode kontekstual diatas.
Penulis menggunakan
strategi pembelajaran kontekstual
dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut, yaitu:
1.
Mengobservasi
suatu fenomena
Guru
menfokuskan siswanya untuk melakukan hal-hal di bawah ini.
a.
Menyuruh
siswa untuk mencari referesnsi lain tentang pelajaran PAI baik dengan cara
melibatkan orang lain atau dengan cara menggunakan suatu media yang relevan
semisal menonton VCD tentang kejadian manusia, rahasia Ilahi, Takdir Ilahi,
tentang Alam Akhirat, azab Ilahi , dan sebagainya
b.
Menyuruh
siswa untuk terlibat langsung sesuai tema pelajaran lebih-lebih mempraktekkan
secara nyata misalnya melaksanakan puasa
sunnah, membayar zakat, mengikuti sholat berjamaah di masjid,
menyantuni fakir miskin dan sebagainya.
2.
Mencatat
permasalahan-permasalahan yang muncul
Setelah
melakukan tindakan langsung dari pelajaran maka siswa diharuskan membuat
catatan tentang pengalaman yang
mereka alami melalui diskusi dengan teman-temannya. Setelah itu siswa mengamati
dan melakukan aktivitas keagamaan siswa diwajibkan untuk
mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul serta
mereka dapat mengungkapkan perasaannya kemudian mendiskusikan dengan teman sekelasnya.
Langkah
ketiga tugas guru Pendidikan Agama Islam adalah merangsang siswa untuk berpikir
kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada.
3.
Memotivasi
siswa agar mereka berani bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan pendapat
yang berbeda dengan mereka.
Guru membiasakan hal itu
kepada siswa agar pada kenyataannya mereka akan dihadapkan dengan beberapa
kejadian itu sesuai dengan pelajarannya, akan tetapi mereka kesulitan
dikarenakan mereka kurang bisa mempraktekkan dan melihat fenomena-fenomena yang
terjadi, maka setelah mereka melakukan sendiri, mereka dibiasakan untuk
mengungkapkan perasaannya yang dapat dipertanggung jawabkan secara benar,
dengan cara memberikan alasan yang logis
4.
Memanfaatkan
Lingkungan
Guru memberikan tugas kepada siswa melakukan kegiatan
yang berhubungan dengan konteks
lingkungannya, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Hal ini dapat
dilakukan dengan memberikan penugasan kepada siswa di luar
kelas. Misalnya mengikuti sholat berjamaah, mengikuti
sholat jum`at, mengikuti kegiatan ibadah qurban dan berkunjung ke pesantren untuk mewawancarai santri atau ustadz yang berada di
pesantren tersebut.
Siswa diharapkan
dapat memperoleh pengalaman langsung dari kegiatan yang mereka lakukan mengenai materi yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan
aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka
penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi
pembelajaran.
5.
Di
dalam kelas guru PAI melakukan proses pembelajaran dengan membentuk
kelompok-kelompok belajar. Siswa di bagi kedalam beberapa
kelompok.
Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam mempraktekan
metode ini adalah:
a.
Mendatangkan
ahli ke kelas
b.
Mendatangkan
siswa lain yang sederajat untuk melakukan kerja sama.
c.
Mendatangkan
juga Siswa yang lebih tinggi untuk melakukan kerja sama dan belajar dari
pengalamannya.
6.
Siswa
disuruh untuk mencari, menganalisis dan menggunakan informasi
sendiri dengan sedikit bantuan atau bahkan tanpa bantuan guru.
Supaya dapat melakukannya, siswa harus lebih
memperhatikan bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka
peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus
mengikuti uji-coba terlebih dahulu; menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi; serta berusaha tanpa meminta bantuan
guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara
mandiri (independent learning).
7.
Guru
melakukan pengecekan terhadap kerja siswa dan memberikan kesimpulan pencapaian
siswa dalam pelaksanaan pendekatan ini, misalnya ketika pelajaran berakhir
siswa merenungkan kembali pengalaman
yang baru mereka peroleh dari pelajaran tentang sholat berjama`ah, puasa,
membayar zakat, menyantuni fakir miskin, dan seterusnya, dengan
cara ini siswa dapat lebih menemukan pengertian materi yang mereka pelajari
serta menentukan sendiri arah pemahaman mereka
3.3.
Hasil Pembelajaran PAI Melalui Pendekatan Kontekstual pada SMP Islam
Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep
1.
Rencana
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilaksanakan di SMP
Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep kelas VII pada mata pelajaran PAI (Al-Qur’an
Hadits) tentang keikhlasan dalam beribadah, dengan indikatornya membaca,
menulis/menyalin, dan menerjemahkan ayat dan hadits tentang keikhlasan dalam
beribadah dengan benar.
Pertama dilaksanakan di SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk
Saronggi Sumenep dengan jumlah siswa 18 orang yang terdiri atas 10 siswa
laki-laki dan 8 siswa perempuan. Materi yang diberikan adalah ayat Al-Qur’an
tentang ikhlas melalui pendekatan kontekstual.
2.
Pelaksanaan
Pelaksanaan bertempat di SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk
Saronggi Sumenep dengan jumlah siswa 18 orang yang terdiri atas 10 siswa
laki-laki dan 8 siswa perempuan. Mata pelajaran yang diberikan adalah PAI
(Al-Qur’an Hadits) dengan materi pokok keikhlasan dalam beribadah dengan
indikatornya membaca, menulis/menyalin, dan menerjemahkan ayat dan hadits
tentang keikhlasan dalam beribadah dengan benar melalui pendekatan kontekstual.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain
:
a.
Apersepsi
dengan tanya jawab tentang materi keikhlasan dalam beribadah.
b.
Memotivasi
siswa agar aktif mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan materi dengan
dikerjakan langsung secara nyata.
c.
Memberi
kesempatan pada siswa untuk menemukan masalah dan menanyakan hal yang belum
jelas yang berhubungan dengan materi yang dipraktekkan.
d.
Melakukan
observasi terhadap aktivitas siswa.
e.
Melakukan
evaluasi terhadap hasil belajar siswa.
3.
Pengamatan/Pengumpulan
Data
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan yang
bertempat di SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi dengan jumlah siswa 18 orang
yang terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Mata pelajaran yang
diberikan adalah PAI (Al-Qur’an Hadits) dengan materi pokok keikhlasan dalam
beribadah dengan indikatornya menyimpulkan isi kandungan ayat dan hadits
tentang keikhlasan dalam beribadah dengan benar.
Pada tahap ini dilaksanakan pengamatan atau
observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran PAI (Al-Qur’an Hadits)
tentang keikhlasan dalam beribadah dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan
diagram secara berturut-turut di halaman muka selanjutnya.
Nilai Pelaksanaan Praktek Pembelajran PAI
Siswa Kelas VII SMP Islam Ar-Rifaiyah
|
NO
|
Nama Siswa
|
L/P
|
Nilai
|
Keterangan
|
|
1
|
Udnul Hayat
|
L
|
55
|
Tuntas
|
|
2
|
Edi Lukman
|
L
|
40
|
Belum
|
|
3
|
Nasrul Ijainafi
|
L
|
40
|
Belum
|
|
4
|
Sri Indayani
|
P
|
55
|
Tuntas
|
|
5
|
Susiatun
|
P
|
55
|
Tuntas
|
|
6
|
Sarini
|
P
|
55
|
Tuntas
|
|
7
|
Handayani
|
P
|
55
|
Tuntas
|
|
8
|
Hartini
|
P
|
55
|
Tuntas
|
|
9
|
Azizah
|
P
|
55
|
Tuntas
|
|
10
|
Fathorrahman
|
L
|
55
|
Tuntas
|
|
11
|
Zainul Hayat
|
L
|
55
|
Tuntas
|
|
12
|
Kholishatin
|
P
|
55
|
Tuntas
|
|
13
|
Mansur
|
L
|
40
|
Belum
|
|
14
|
Zamroni
|
L
|
55
|
Tuntas
|
|
15
|
Moh. Abul
|
L
|
55
|
Tuntas
|
|
16
|
Rafiki
|
P
|
40
|
Belum
|
|
17
|
Walid
|
L
|
40
|
Belum
|
|
18
|
Taufikurrahman
|
L
|
40
|
Belum
|
|
Jumlah
|
900
|
|||
|
Rata- rata kelas :
|
50,0
|
|||
Aktifitas Belajar Siswa Kelas VII
SMP Islam Ar-Rifaiyah
Dengan Pokok Bahasan Keikhlasan dalam Beribadah
|
No
|
Keterlibatan Siswa dalam
Pembelajaran
|
Pra Siklus
|
|
|
Jumlah Siswa
|
Keterangan
%
|
||
|
1
2
3
|
Terlibat Aktif
Terlibat Pasif
Tidak Terlibat
|
10
5
3
|
55
28
17
|
|
Jumlah
|
18
|
100
|
|
Keterangan
a.
Terlibat
aktif artinya siswa dapat melakukan dengan sungguh- sungguh, menemukan masalah,
aktif bertanya, dan menjawab pertanyaan degnan alasan logis dan dapat
dipertanggungjawabkan.
b.
Terlibat
pasif artinya siswa dapat melakukan dengan sungguh- sungguh, menemukan masalah,
tidak bertanya dan menjawab pertanyaan tanpa alasan logis.
c.
Tidak
terlibat artinya siswa duduk diam saja, tidak dapat mempraktekkan, tidak mau
bertanya maupun menjawab pertanyaan.
Demikian
hasil dari pelaksanaan pembelajaran PAI pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk
Saronggi Sumenep dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
BAB
IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari pembahasan dan kegiatan yang dilakukan
penulis dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Pendekatan kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang
mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa
sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun warga
negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya.
2.
Pengertian Pembelajaran PAI adalah
usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan
agama Islam melalui kegiatan berupa bimbingan, pengajaran, atau latihan dengan
memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan
antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.
3.
Proses pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual dilakukan dengan hal sebagai berikut :
a.
Mengobservasi
suatu fenomena
b.
Mencatat
permasalahan-permasalahan
c.
Memotivasi
siswa berani bertanya
d.
Memanfaatkan
lingkungan
e.
Mencari,
menganalisis dan menggunakan informasi sendiri
f.
Melakukan
pengecekan terhadap kerja siswa
4.
Hasil
pembelajaran PAI melalui pendekatan kotekstual dilakukan dengan cara sitematis
oleh penulis melalui tiga proses
a.
Perencanaan
b.
Pelaksanaan
c.
Pengamatan
/ Pengumpulan data
4.2.
Saran-saran
Dari sekian pembahasan yang ada meskipun tidak
begitu sempurna makalah ini memberikan beberapa intisari untuk diambil
pemahaman yang menjadikan semua orang positif menerima kenyataan ini, salah
satunya bahwa kenyataannya pembelajaran PAI akan terus menerus ada pada pembelajaran
di sekolah, maka dari itu perlu diadakan perubahan-perubahan metode, media,
atau strategi pembelajaran pada materi PAI, salah satu metode yang bisa dipakai
pada makalah ini adalah metod / pendekatan Kontekstual.
Dsalam pelaksanaan kegiatan ini mungkin tidak
sepenuhnya sempurna, tapi mungkin bisa dijadikan acuan untuk kegiatan lain
dikemudian hari sebagai kesempurnaannya.
Karenya tulisan ini bisa dijadikan rujukan positif,
sebagai akhir dari segalanya maka disarankan tulisan ini juga bisa dimanfaatkan
dengan semestinya, baik teoritis dan praktis. Wallahu A’lam Bis-Shawaf.....
DAFTAR
PUSTAKA
Aqib, Zainal. 2002. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya
: Insan Cendekia
Badruzaman, Ahmad. 2006. Strategi
dan Pendekatan dalam Pembelajaran. Yogyakarta : Ar Ruuz
Humaidi, M.K. 2006. Model-Model
Pembelajaran Kreatif. Bandung :
Rosdakarya
Jawahir, Mochamad. 2005. Teknik
dan Strategi Pembelajaran. Bandung :
Cendekia Press
Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual; Konsep dan
Aplikasi. Bandung : Refika Aditama
Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan
Kontekstual; Panduan Bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengurus Sekolah.
Jakarta : Bumi Aksara
Tafsir, Ahmad.
2002. Ilmu Pendidikan Islam. bandung : Rosdakarya
Wahid, Abdul. 2007. Pengajaran
Terpadu PAI dengan Pelajaran Umum. Pikiran Rakyat 1 Mei
2007 kolom Forum Guru

Type Mesin Harga Promo Stok Barang terbatas
BalasHapusSemaua barang bergaransi resmi 1 thn made in jepan
100% di jamin Original,Cara order HUB 085343887557
ALAMAT TOKO
JLN JEND SUDIRMAN NO 1B LANTAI 1
MALL RATU PLAZA JAKARTA SELATAN
Toko kami melayani pengiriman seluruh wilaya Indonesia.
Mesin Fotocopy Canon iR2016 Copy-Print Rp.4.500.000
Canon iR2018 Copy-Print Rp.5.900.000
Canon iR4570 Copy-Print-Scan Rp.6.850.000
Canon iR3300 Copy-Print-Scan Rp.6.700.000
Canon iR3035 Copy-Print-Scan Rp.6.000.000
Canon IR3045 Copy-Print-Scan Rp.6.200.000
Canon iR5070 Copy-Print-Scan Rp.8.300.000
Canon iR5570 Copy-Print-Scan Rp.8.500.000
Canon iR6570 Copy-Print-Scan Rp.9.000.000
Canon iR5075 Copy-Print-Scan Rp.10.500.000
Canon iR5000 Copy-Print-Scan Rp.13.500.000
Canon iR6000 Copy-Print-Scan Rp.14.700.000
Canon iR5020 Copy-Print-Scan Rp16.500.00
Canon IR6020 Copy-Print-Scan Rp.17.000.000
CARA TRANSAKSI:
Kami Hanya Melayani Yang Serius.
Kami melayani pembeli di seluruh indonesia.
Pembeli Diwajibkan Melakukan Pembayaran Harga Barang Yang Sesuai Dengan Barang Pesanannya.
Pengiriman barang melalui: JNE, TIKI, dan POS Express
Harga barang kami sudah termasuk ongkos kirim.
Barang yang rusak atau cacat pada saat pengiriman, akan kami gantikan kembali dengan barang yang sama.
KEUNTUNGAN BERBELANJA DI TOKO KAMI:
Barang berkualitas dan harga relatif lebih murah.
Dapat dikirim ke seluruh Indonesia.
Ongkos kirim gratis.
Keamanan dijamin 100% karena setiap pengiriman barang disertai dengan asuransi Dan Nomor resi
Proses cepat dan sederhana.
STOK READY Order sebelum Kehabisan
Jangan ragu transaksi aman no tipu tipu…!