PEMBELAJARAN PAI MELALUI PENDEKATAN KONTEKTUAL





PEMBELAJARAN PAI MELALUI PENDEKATAN KONTEKTUAL PADA SMP ISLAM AR-RIFAIYAH
JULUK SARONGGI SUMENEP

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Genap Materi PPL I
Dosen Pengampu : Nuryatim Hadi Saputra, M.Pd






Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni
(STITA)
Tarate Pandian Sumenep
2012







KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat serta Karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Pembelajaran PAI Melalui Pendekatan Kontektual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep”.
Makalah ini berisikan tentang Pembelajaran PAI pada Lembaga Sekolah yang menggunakan pendekatan Kontektual, yakni penerapan Pembelajaran Cooperatif Teaching and Learning (CTL) yang mana siswa di bawa langsung pada kehidupan nyata di sekitar lingkungannya.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Penerapan Metode Kontektual. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.


Sumenep,     Juni 2012

Penulis


DAFTAR ISI

Cover .............................................................................................................
i
Halaman Sampul ........................................................................................
ii
Kata Pengantar ............................................................................................
iii
Daftar Isi .......................................................................................................
iv
Bab I Pendahuluan .....................................................................................
1
1.1.  Latar Belakang Masalah .....................................................................
1
1.2.  Ruang Lingkup Masalah ....................................................................

1.3.  Batasan Masalah ..................................................................................

1.4.  Rumusan Masalah ...............................................................................

1.5.  Tujuan Pembahasan ............................................................................

1.6.  Manfaat Penulisan ...............................................................................

Bab II Kajian Pustaka ..................................................................................

2.1.




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Rumusan tujuan pendidikan nasional dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Salah salah satu ciri manusia berkualitas dalam rumusan UU No. 20 Tahun 2003 di atas adalah mereka yang tangguh iman dan takwanya serta memiliki akhlak mulia. Dengan demikian salah satu ciri kompetensi keluaran pendidikan nasional adalah ketangguhan dalam iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia. Menurut Tafsir (2002), bagi umat Islam, dan khususnya dalam pendidikan Islam, kompetensi iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia tersebut sudah lama disadari kepentingannya, dan sudah diimplementasikan dalam lembaga pendidikan Islam.
Dalam pandangan Islam, kompetensi iman dan takwa (imtak) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), juga akhlak mulia diperlukan oleh manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Jadi, dalam pandangan Islam, peran kekhalifahan manusia dapat direalisasikan melalui tiga hal tersebut.
Dengan demikian, menurut Wahid (2007), dalam Islam tidak dikenal dikotomi antara imtak dan iptek, namun justru sebaliknya perlu keterpaduan antara keduanya, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah sesungguhnya tidak membedakan antara ilmu agama Islam dengan ilmu-ilmu umum. Yang ada dalam Al-Qur’an adalah ilmu. Pembagian adanya ilmu agama Islam dan ilmu umum merupakan hasil kesimpulan manusia yang mengidentifikasi ilmu berdasarkan sumber objek kajiannya.
Ilmu-ilmu tersebut pada hakikatnya berasal dari Allah SWT, karena sumber ilmu tersebut berupa wahyu, alam jagat raya, manusia dengan perilakunya, alam pikiran, dan institusi batin seluruhnya ciptaan Allah yang diberikan kepada manusia. Dengan demikian para ilmuwan dalam berbagai bidang keahlian tersebut sebenarnya bukanlah pencipta ilmu, tapi penemu ilmu, penciptanya adalah Tuhan. Atas dasar paradigma tersebut, seluruh ilmu hanya dapat dibedakan dalam nama dan istilahnya, sedangkan hakikat dan substansi ilmu tersebut sebenarnya satu dan berasal dari Tuhan. Atas dasar pandangan ini, maka tidak ada dikotomi yang mengistimewakan antara satu ilmu dengan ilmu yang lainnya.
Dikotomi antara ilmu agama Islam dengan ilmu umum pun terjadi dalam dunia pendidikan. Pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah dianggap sebagai representasi ilmu agama Islam, sedangkan pelajaran-pelajaran lainnya dianggap sebagai ilmu-ilmu umum. Akibat dari itu semua adalah adanya beban yang sangat berat bagi guru yang mengajar pelajaran pendidikan agama Islam, yaitu seolah-olah sebagai penanggung jawab ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan doktrin agama.
Berkaitan dengan pengembangan imtak dan akhlak mulia maka yang perlu dikaji lebih lanjut ialah peran pendidikan agama, sebagaimana dirumuskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan atau menjadi ahli ilmu agama. Pendidikan keagamaan merupakan salah satu bahan kajian dalam semua kurikulum pada semua jenjang pendidikan, mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. Pendidikan Agama merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti oleh peserta didik bersama dengan Pendidikan Kewarganegaraan dan yang lainnya.
Tantangan yang dihadapi dalam Pendidikan Agama, khususnya Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah mata pelajaran adalah bagaimana mengimplementasikan pendidikan agama Islam bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana mengarahkan peserta didik agar memiliki kualitas iman, taqwa dan akhlak mulia. Dengan demikian materi pendidikan agama bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana membentuk kepribadian siswa agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat dan kehidupannya senantiasa dihiasi dengan akhlak yang mulia dimanapun mereka berada, dan dalam posisi apapun mereka bekerja.
Maka saat ini yang mendesak adalah bagaimana usaha-usaha yang harus dilakukan oleh para guru Pendidikan Agama Islam untuk mengembangkan metode-metode pembelajaran yang dapat memperluas pemahaman peserta didik mengenai ajaran-ajaran agamanya, mendorong mereka untuk mengamalkannya dan sekaligus dapat membentuk akhlak dan kepribadiannya.
Salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah dengan Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Meskipun masih dijumpai beberapa problema dalam pelaksanaannya tetapi ini merupakan salah satu alternatif model dalam pengembangan pembelajaran PAI di sekolah.
1.2.Ruang Lingkup Masalah
Sebagaimana telah dibahas pada latar belakang diatas, bahwa salah satu alternatif yang bisa kita pakai pada pembelajaran PAI adalah Metode Kontektual, dimana siswa dihadapkan pada kehidupan nyata, yakni menghubungkan pelajaran yang terdapat pada buku pelajaran dengan kenyataan yang bisa dilalui oleh siswa.
Sebagai guru tentunya harus bisa memahami metode ini, sehingga diharapkan bisa maksimal dalam membimbing peserta didik yang diasuhnya, maka proses-proses yang ada dalam pembelajaran PAI digunakan sebaik mungkin sehingga ketercapaian peserta didik melaksanakan metode ini.
Ruang lingkup untuk membahas makalah ini penulis membahas dengan jelas metode ini sehingga diharapkan bisa memberi pengertian yang maksimal pada pembaca, selain itu dalam makalah ini dibahas bagaimana pelaksanaan metode kontektual pada lembaga sekolah sekaligus bagaimana proses serta hasil dari penerapan ini pada lembaga sekolah.
1.3.Pembatasan Masalah
Makalah ini akan akan dibatasi pada beberapa masalah yang ada diatas. Adapun batasan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
a.      Pelaksanaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran PAI
b.      Proses pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep
c.       Hasil pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep
1.4.Rumusan Masalah
Dengan uraian di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah pada makalah ini sebagai berikut :
a.      Bagaimana pelaksanaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran PAI?
b.      Bagaimana proses pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep?
c.       Bagaimana hasil pembelajaran PAI melalui pendekatan kontektual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep?
1.5.Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka penulisan makalah ini bertujuan untuk
a.      Meningkatkan serta mengetahui pelaksanaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran PAI 
b.      Meningkatkan proses pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep
c.       Meningkatkan hasil pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual pada SMP Islam Juluk Saronggi Sumenep
1.6.Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang dapat penulis sampaikan terbagi dalam manfaat praktis dan teoretis.
a.      Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan keagamaan, terutama dalam kegiatan keseharian peserta didik dilingkungannya.
b.      Manfaat Praktis
1.      Bagi Siswa
Memudahkan siswa dalam berlatih dan belajar ilmu keagamaan serta mentransformasikannya pada kehidupan nyata melalui pendekatan kontekstual.
2.      Bagi Guru
a)      Menawarkan inovasi cara pembelajaran PAI.
b)     Memotivasi siswa dalam kegiatan beribadah sehari-sehari.
c)      Meningkatkan kualitas mata pelajaran PAI
3.      Bagi Sekolah
Meningkatkan kualitas pembelajaran PAI baik proses ataupun hasil sehingga menghasilkan kualitas siswa yang baik pula di sekolah tersebut.
4.      Bagi Penulis
Dengan ini penulis memperoleh pengalaman dan wawasan pembelajaran PAI di sekolah. Dari hasil pengalaman langsung tersebut, penulis dapat melakukan kajian-kajian lebih lanjut untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran PAI dengan pendekatan kontekstual.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Pendekatan Kontekstual
Sampai saat ini, pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh kelas yang berfokus pada guru sebagai utama pengetahuan, sehingga ceramah akan menjadi pilihan utama dalam menentukan strategi belajar. Sehingga sering mengabaikan pengetahuan awal siswa. Untuk itu diperlukan suatau pendekatan belajar yang memberdayakan siswa. Salah satu pendekatan yang memberdayakan siswa dalah pendekatan kontekstual (CTL).
Menurut Muslich (2007:41) pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Lebih lanjut Komalasari (2010:7) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya.
Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih berurusan dengan trategi daripada memberi informasi. Guru hanya megelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi siswa. Proses belajar mengajar lebih diwarnai Student centered daripada teacher centered.
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring).
1.         Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2.         Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3.         Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
4.         Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5.         Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.
Menurut Blanchard, ciri-ciri kontekstual: 1) Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah. 2) Kegiatan belajar dilakukan dalam  berbagai konteks 3) Kegiatan belajar dipantau dan diarahkan  agar siswa dapat belajar mandiri. 4) Mendorong siswa untuk belajar dengan temannya dalam kelompok atau secara mandiri. 5) Pelajaran menekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda. 6) Menggunakan penilaian otentik
2.2. Pembelajaran PAI
Istilah PAI yang kita kenal pada dasarnya mencakup Metode, Media & Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Oleh karenanya, pada makalah ini kita akan membahas 3 pokok dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yaitu metode, media dan strategi. Ke tiga hal pokok tersebutlah yang seharunya diketahi dalam memahami Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Sebelum mengarah pada pembahasan fokus kita mengenai Metode, Media & Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, ada beberapa ilmu dasar terkait pembahasan ini, diantaranya adalah pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
1.      Pengertian Pembelajaran PAI
Menurut salah seorang pakar PAI di Indonesia, Prof. Dr. H. Abd. Majid, MA, bahwa Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan berupa bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.
Adapun menurut undang-undang UUSPN No.2/1989 pasal 39 ayat 2 menyebutkan bahwa pembelajaran pendidikan agama Islam merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. 
2.      Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Masih dari sumber pakar di atas, bahwa pembelajaran pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, keimanan, penghayatan, pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. serta berakhlah mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 
Atau bila dibuat dalam bentuk poin-poin, maka tujuan pembelajaran pendidikan agama Islam dapat dirinci sebagai berikut :
a.      Memperkuat iman dan taqwa
b.      Menghormati agama lain
c.       Memelihara kerukunan antar umat beragama
d.     Mewujudkan persatuan nasional
Tiga hal pokok yang seharusnya diketahi dalam memahami Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
1.      Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Dalam menerapkan metode pembelajaran pendidikan agama Islam ada 4 metode yang umumnya dilakukan oleh seorang pengajar, diantaranya : 
a.         Metode ceramah, resitasi, atau proyek. Khusus pada Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ini, maka Metode ini digunakan khusus pada bahan mata pelajaran yang memerlukan pengamatan.
b.        Metode demonstrasi dan dril. Jika suatu pembelajaran yang bahannya memerlukan keterampilan atau gerakan tertentu maka metodenya menggunakan demonstrasi ataupun dril.
c.         Metode pemberian tugas dan tanya jawab. JIka dalam mata pelajaran terdapat bahan yang mengandung materi hafalan, maka metodenya berupa pemberian tugas ataupun tanya jawab.
d.        Metode sosio drama/bermain peran dan service project. Terkadang ada bahan yang mengandung unsur emosi, sehingga dianjurkan metode pembelajaran pendidikan agama Islamnya dengan metode sosiodrama/bermain peran dan service project.
2.      Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Media pembelajaran merupakan bagian integral dari sebuah proses pendidikan di sekolah. Secara harfiah media berarti perantara atau pengantar atau wahana atau pun penyaluran pesan atau informasi belajar. Pengertian secara harfiah ini menunjukkan bahwa media pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan wadah dari pesan yang disampaikan oleh sumber yaitu guru kepada sasaran atau penerima pesan yaitu siswa yang belajar pendidikan agama Islam.
Secara khusus, media pembelajaran Agama Islam adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran PAI di sekolah. Sedangkan tujuan penggunaan media pembelajaran PAI tersebut adalah supaya proses pembelajaran PAI dapat berlangsung dengan baik. Seperti telah disinggung di awal, media pembelajaran pendidikan agama Islam merupakan wadah dari pesan yang disampaikan oleh guru kepada siswa yang belajar Pendidikan Agama Islam.

Dari jenisnya media pembelajaran ini dapat diklasifikasikan menjadi
a.      Media Audio
b.    Media Cetak  
c.     Media Elektronik. 
3.      Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh seorang guru maka ada beberapa strategi pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) maka ada beberapa strategi yang harus diterapkan, yaitu :
a.      Mengidentifikasikan dan menetapkan spesifikasi serta kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik pengajar.
b.      Terlebih dahulu memilih sistem pendekatan belajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup anak didik pengajar
c.       Menetatapkan prosedur, metode dan teknik pembelajaran yang dianggap paling tepat sehingga dapat dijadikan pegangan dalam kegiatan mengajar guru.
d.     Memberikan batasan norma-norma dan batas minimal standar keberhasilan kemudian dijadikan pedoman dalam melakukan evaluasi dari hasil belajar siswa.
Dalam mencapai tujuan pembelajaran perlu menyusun strategi yang optimal, diantaranya:
a.      Dengan strategi pembelajaran secara langsung.
b.      Dengan strategi pembelajaran melalui diskusi.
c.       Dengan strategi pembelajaran dengan membentuk kelompok kecil.
d.     Dengan strategi pembelajaran cooperative learning.
e.      Dengan strategi pembelajaran melalui problem solving.
2.3. Pendekatan  Kontekstual dalam Pembelajaran PAI
Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, penguasaan guru akan materi dan pemahaman mereka dalam memilih metode yang tepat untuk materi tersebut akan sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Salah satu metode yang saat ini dianggap tepat dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah melalui pendekatan kontekstual.
Salah satu unsur terpenting dalam penerapan pendekatan kontekstual adalah pemahaman guru untuk menerapkan strategi pembelajaran kontekstual di dalam kelas. Akan tetapi, fenomena yang ada menunjukkan sedikitnya pemahaman guru-guru PAI mengenai strategi ini. Oleh karena itu diperlukan suatu model pengajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual yang mudah dipahami dan diterapkan oleh para guru Pendidikan Agama Islam di dalam kelas secara sederhana.
Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) dalam (Badruzaman, 2006). yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok.
Jawahir (2005) mengemukakan bahwa guru PAI dapat menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut, yaitu:
1.      Memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa
2.      Lebih mengaktifkan siswa dan guru
3.      Mendorong berkembangnya kemampuan baru
4.      Menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat.
Melalui pembelajaran ini, siswa menjadi lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan ketrampilan di kehidupan nyata sehingga memiliki motivasi tinggi untuk belajar.
Beberapa hal yang harus diperhatikan para guru Pendidikan Agama Islam dalam mengimplementasikan pendekatan kontestual, menurut Humaidi (2006) adalah sebagai berikut:
1.      Pembelajaran Berbasis Masalah
Langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah mengobservasi suatu fenomena, misalnya :
a.    Menyuruh siswa untuk menonton VCD tentang kejadian manusia, rahasia Ilahi, Takdir Ilahi, tentang Alam Akhirat, azab Ilahi , dan sebagainya;
b.   Menyuruh siswa untuk melaksanakan shaum pada hari senin dan kamis, membayar zakat ke BAZ, mengikuti sholat berjamaah di masjid, mengikuti ibadah qurban, menyantuni fakir miskin dan sebagainya.
Langkah kedua yang dilakukan oleh guru adalah memerintahkan siswa untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul, misalnya;
a.    Setelah menonton VCD atau mendengarkan kisah-kisah Al Qur`an, siswa diharuskan membuat catatan tentang pengalaman yang mereka alami, melalui diskusi dengan teman-temannya;
b.   Setelah mengamati dan melakukan aktivitas keagamaan siswa diwajibkan untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul serta mereka dapat mengungkapkan perasaannya kemudian mendiskusikan dengan teman sekelasnya.
Langkah ketiga tugas guru Pendidikan Agama Islam adalah merangsang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada.
Langkah keempat guru diharapkan mampu untuk memotivasi siswa agar mereka berani bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan pendapat yang berbeda dengan mereka.
2.      Memanfaatkan Lingkungan Siswa untuk Memperoleh Pengalaman Belajar.
Guru memberikan penugasan kepada siswa untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan konteks lingkungan siswa, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan penugasan kepada siswa di luar kelas. Misalnya mengikuti sholat berjamaah, mengikuti sholat jum`at, mengikuti kegiatan ibadah qurban dan berkunjung ke pesantren untuk mewawancarai santri atau ustadz yang berada di pesantren tersebut.
Siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung dari kegiatan yang mereka lakukan mengenai materi yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.
3.      Memberikan Aktivitas Kelompok
Di dalam kelas guru PAI diharapkan dapat melakukan proses pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok belajar. Siswa di bagi kedalam beberapa kelompok yang heterogen. Aktivitas pembelajaran kelompok dapat memperluas perspektif dan dapat membangun kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh guru dalam mempraktekan metode ini adalah:
a.      Mendatangkan  ahli  ke kelas, misalnya Tokoh  Agama, Santri atau Ulama dari pesantren,
b.      Bekerja dengan kelas sederajat,
c.       Bekerja dengan kelas yang ada di atasnya.
4.      Membuat Aktivitas Belajar Mandiri
Melalui aktivitas ini, peserta didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi sendiri dengan sedikit bantuan atau bahkan tanpa bantuan guru. Supaya dapat melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji-coba terlebih dahulu; menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi; serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri (independent learning).
5.      Menyusun Refleksi
Dalam melakukan refleksi, misalnya ketika pelajaran berakhir siswa merenungkan kembali pengalaman yang baru mereka peroleh dari pelajaran tentang sholat berjama`ah, puasa senin dan kamis, membayar zakat, menyantuni fakir miskin, dan seterusnya. Melalui perenungan ini, siswa dapat lebih menemukan kesadaran dalam dirinya sendiri tentang makna ibadah yang mereka lakukan dalam hubungan mereka sebagai hamba Allah dan dalam hubungan mereka sebagai makhluk sosial.


BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Pelaksanaan Pembelajaran PAI Melalui Pendekatan Kontekstual
Langsung dalam proses pemahaman dan mengkonstruksi sendiri konsep atau pengetahuan tersebut. Model ini bisa dilakukan baik secara perorangan maupun kelompok. Agar pelaksanaan penemuan terbimbing berjalan dengan efektif, ada 10 langkah yang ditempuh oleh guru Pendidian Agama Islam adalah sebagai berikut :
1.   Merumuskan  masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan  data  secukupnya, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan. Perumusan harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui kegiatan tersebut perlu ditulis dengan jelas. 
2.   Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melakukan kegiatan. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan.
3.   Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah kearah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
4.   Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/membaca literatur untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
5.   Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
6.   Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut diperiksa oleh guru. Hal ini penting di lakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
7.   Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya. Disamping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100 % kebenaran konjektur.
8.    Setelah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
9.        Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.
10.    Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan factor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan sebagaimana mestinya.
3.2. Proses Pembelajaran PAI Melalui Pendekatan Kontekstual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep
Dalam melakukan pengamatan ini penulis menggunakan cara pendekatan langsung dengan siswa, kegiatan awal yang penulis lakukan adalah menggantikan guru mata pelajaran PAI dengan minta izin terlebih dahulu untuk menerapkan pendekatan ini. Kegiatan dilakukan dengan mengacu pada tahapan pelaksanaan pembelajaran PAI melalui metode kontekstual diatas.
Penulis menggunakan strategi pembelajaran kontekstual dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut, yaitu:
1.      Mengobservasi suatu fenomena
Guru menfokuskan siswanya untuk melakukan hal-hal di bawah ini.
a.      Menyuruh siswa untuk mencari referesnsi lain tentang pelajaran PAI baik dengan cara melibatkan orang lain atau dengan cara menggunakan suatu media yang relevan semisal menonton VCD tentang kejadian manusia, rahasia Ilahi, Takdir Ilahi, tentang Alam Akhirat, azab Ilahi , dan sebagainya
b.      Menyuruh siswa untuk terlibat langsung sesuai tema pelajaran lebih-lebih mempraktekkan secara nyata misalnya melaksanakan puasa sunnah, membayar zakat, mengikuti sholat berjamaah di masjid, menyantuni fakir miskin dan sebagainya.
2.      Mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul
Setelah melakukan tindakan langsung dari pelajaran maka siswa diharuskan membuat catatan tentang pengalaman yang mereka alami melalui diskusi dengan teman-temannya. Setelah itu siswa mengamati dan melakukan aktivitas keagamaan siswa diwajibkan untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul serta mereka dapat mengungkapkan perasaannya kemudian mendiskusikan dengan teman sekelasnya.
Langkah ketiga tugas guru Pendidikan Agama Islam adalah merangsang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada.
3.      Memotivasi siswa agar mereka berani bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan pendapat yang berbeda dengan mereka.
Guru membiasakan hal itu kepada siswa agar pada kenyataannya mereka akan dihadapkan dengan beberapa kejadian itu sesuai dengan pelajarannya, akan tetapi mereka kesulitan dikarenakan mereka kurang bisa mempraktekkan dan melihat fenomena-fenomena yang terjadi, maka setelah mereka melakukan sendiri, mereka dibiasakan untuk mengungkapkan perasaannya yang dapat dipertanggung jawabkan secara benar, dengan cara memberikan alasan yang logis
4.      Memanfaatkan Lingkungan
Guru memberikan tugas kepada siswa melakukan kegiatan yang berhubungan dengan konteks lingkungannya, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan penugasan kepada siswa di luar kelas. Misalnya mengikuti sholat berjamaah, mengikuti sholat jum`at, mengikuti kegiatan ibadah qurban dan berkunjung ke pesantren untuk mewawancarai santri atau ustadz yang berada di pesantren tersebut.
Siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung dari kegiatan yang mereka lakukan mengenai materi yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.
5.      Di dalam kelas guru PAI melakukan proses pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok belajar. Siswa di bagi kedalam beberapa kelompok.
Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam mempraktekan metode ini adalah:
a.      Mendatangkan  ahli  ke kelas
b.      Mendatangkan siswa lain yang sederajat untuk melakukan kerja sama.
c.       Mendatangkan juga Siswa yang lebih tinggi untuk melakukan kerja sama dan belajar dari pengalamannya.
6.      Siswa disuruh untuk mencari, menganalisis dan menggunakan informasi sendiri dengan sedikit bantuan atau bahkan tanpa bantuan guru. Supaya dapat melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji-coba terlebih dahulu; menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi; serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri (independent learning).
7.      Guru melakukan pengecekan terhadap kerja siswa dan memberikan kesimpulan pencapaian siswa dalam pelaksanaan pendekatan ini, misalnya ketika pelajaran berakhir siswa merenungkan kembali pengalaman yang baru mereka peroleh dari pelajaran tentang sholat berjama`ah, puasa, membayar zakat, menyantuni fakir miskin, dan seterusnya, dengan cara ini siswa dapat lebih menemukan pengertian materi yang mereka pelajari serta menentukan sendiri arah pemahaman mereka
3.3. Hasil Pembelajaran PAI Melalui Pendekatan Kontekstual pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep
1.      Rencana
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dilaksanakan di SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep kelas VII pada mata pelajaran PAI (Al-Qur’an Hadits) tentang keikhlasan dalam beribadah, dengan indikatornya membaca, menulis/menyalin, dan menerjemahkan ayat dan hadits tentang keikhlasan dalam beribadah dengan benar.
Pertama dilaksanakan di SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep dengan jumlah siswa 18 orang yang terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Materi yang diberikan adalah ayat Al-Qur’an tentang ikhlas melalui pendekatan kontekstual.
2.      Pelaksanaan
Pelaksanaan bertempat di SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep dengan jumlah siswa 18 orang yang terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Mata pelajaran yang diberikan adalah  PAI (Al-Qur’an Hadits) dengan materi pokok keikhlasan dalam beribadah dengan  indikatornya membaca, menulis/menyalin, dan menerjemahkan ayat dan hadits tentang keikhlasan dalam beribadah dengan benar melalui pendekatan kontekstual.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain :
a.    Apersepsi dengan tanya jawab tentang materi keikhlasan dalam beribadah.
b.   Memotivasi siswa agar aktif mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan materi dengan dikerjakan langsung secara nyata.
c.    Memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan masalah dan menanyakan hal yang belum jelas yang berhubungan dengan materi yang dipraktekkan.
d.   Melakukan observasi terhadap aktivitas siswa.
e.    Melakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa.
3.      Pengamatan/Pengumpulan Data
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan yang bertempat di SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi dengan jumlah siswa 18 orang yang terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Mata pelajaran yang diberikan adalah PAI (Al-Qur’an Hadits) dengan materi pokok keikhlasan dalam beribadah dengan indikatornya menyimpulkan isi kandungan ayat dan hadits tentang keikhlasan dalam beribadah dengan benar.
Pada tahap ini dilaksanakan pengamatan atau observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran PAI (Al-Qur’an Hadits) tentang  keikhlasan dalam beribadah dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram secara berturut-turut di halaman muka selanjutnya.
Nilai Pelaksanaan Praktek Pembelajran PAI
Siswa Kelas VII SMP Islam Ar-Rifaiyah
NO
Nama Siswa
L/P
Nilai
Keterangan
1
Udnul Hayat
L
55
Tuntas
2
Edi Lukman
L
40
Belum
3
Nasrul Ijainafi
L
40
Belum
4
Sri Indayani
P
55
Tuntas
5
Susiatun
P
55
Tuntas
6
Sarini
P
55
Tuntas
7
Handayani
P
55
Tuntas
8
Hartini
P
55
Tuntas
9
Azizah
P
55
Tuntas
10
Fathorrahman
L
55
Tuntas
11
Zainul Hayat
L
55
Tuntas
12
Kholishatin
P
55
Tuntas
13
Mansur
L
40
Belum
14
Zamroni
L
55
Tuntas
15
Moh. Abul
L
55
Tuntas
16
Rafiki
P
40
Belum
17
Walid
L
40
Belum
18
Taufikurrahman
L
40
Belum





Jumlah
900

Rata- rata kelas :
50,0


Aktifitas Belajar Siswa Kelas VII SMP Islam Ar-Rifaiyah
Dengan Pokok Bahasan Keikhlasan dalam Beribadah
No
Keterlibatan Siswa dalam Pembelajaran
Pra Siklus
Jumlah Siswa
Keterangan
%
1
2
3
Terlibat Aktif
Terlibat Pasif
Tidak Terlibat
10
5
3
55
28
17
Jumlah
18
100
Keterangan
a.      Terlibat aktif artinya siswa dapat melakukan dengan sungguh- sungguh, menemukan masalah, aktif bertanya, dan menjawab pertanyaan degnan alasan logis dan dapat dipertanggungjawabkan.
b.      Terlibat pasif artinya siswa dapat melakukan dengan sungguh- sungguh, menemukan masalah, tidak bertanya dan menjawab pertanyaan tanpa alasan logis.
c.       Tidak terlibat artinya siswa duduk diam saja, tidak dapat mempraktekkan, tidak mau bertanya maupun menjawab pertanyaan.
Demikian hasil dari pelaksanaan pembelajaran PAI pada SMP Islam Ar-Rifaiyah Juluk Saronggi Sumenep dengan menggunakan pendekatan kontekstual.


BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari pembahasan dan kegiatan yang dilakukan penulis dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Pendekatan kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya.
2.      Pengertian Pembelajaran PAI adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan berupa bimbingan, pengajaran, atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.
3.      Proses pembelajaran PAI melalui pendekatan kontekstual dilakukan dengan hal sebagai berikut :
a.      Mengobservasi suatu fenomena
b.      Mencatat permasalahan-permasalahan
c.       Memotivasi siswa berani bertanya
d.     Memanfaatkan lingkungan
e.      Mencari, menganalisis dan menggunakan informasi sendiri
f.        Melakukan pengecekan terhadap kerja siswa
4.      Hasil pembelajaran PAI melalui pendekatan kotekstual dilakukan dengan cara sitematis oleh penulis melalui tiga proses
a.      Perencanaan
b.      Pelaksanaan
c.       Pengamatan / Pengumpulan data
4.2. Saran-saran
Dari sekian pembahasan yang ada meskipun tidak begitu sempurna makalah ini memberikan beberapa intisari untuk diambil pemahaman yang menjadikan semua orang positif menerima kenyataan ini, salah satunya bahwa kenyataannya pembelajaran PAI akan terus menerus ada pada pembelajaran di sekolah, maka dari itu perlu diadakan perubahan-perubahan metode, media, atau strategi pembelajaran pada materi PAI, salah satu metode yang bisa dipakai pada makalah ini adalah metod / pendekatan Kontekstual.
Dsalam pelaksanaan kegiatan ini mungkin tidak sepenuhnya sempurna, tapi mungkin bisa dijadikan acuan untuk kegiatan lain dikemudian hari sebagai kesempurnaannya.
Karenya tulisan ini bisa dijadikan rujukan positif, sebagai akhir dari segalanya maka disarankan tulisan ini juga bisa dimanfaatkan dengan semestinya, baik teoritis dan praktis. Wallahu A’lam Bis-Shawaf.....


DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2002. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya : Insan Cendekia
Badruzaman, Ahmad. 2006. Strategi dan Pendekatan dalam Pembelajaran. Yogyakarta  : Ar Ruuz
Humaidi, M.K. 2006. Model-Model Pembelajaran Kreatif. Bandung  : Rosdakarya
Jawahir, Mochamad. 2005. Teknik dan Strategi Pembelajaran. Bandung  : Cendekia Press
Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual; Konsep dan Aplikasi. Bandung : Refika Aditama
Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual; Panduan Bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengurus Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara
Tafsir, Ahmad. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. bandung : Rosdakarya
Wahid, Abdul. 2007. Pengajaran Terpadu PAI dengan Pelajaran Umum. Pikiran Rakyat 1 Mei 2007 kolom Forum Guru

Komentar

  1. Type Mesin Harga Promo Stok Barang terbatas
    Semaua barang bergaransi resmi 1 thn made in jepan
    100% di jamin Original,Cara order HUB 085343887557
    ALAMAT TOKO
    JLN JEND SUDIRMAN NO 1B LANTAI 1
    MALL RATU PLAZA JAKARTA SELATAN
    Toko kami melayani pengiriman seluruh wilaya Indonesia.

    Mesin Fotocopy Canon iR2016 Copy-Print Rp.4.500.000
    Canon iR2018 Copy-Print Rp.5.900.000
    Canon iR4570 Copy-Print-Scan Rp.6.850.000
    Canon iR3300 Copy-Print-Scan Rp.6.700.000
    Canon iR3035 Copy-Print-Scan Rp.6.000.000
    Canon IR3045 Copy-Print-Scan Rp.6.200.000
    Canon iR5070 Copy-Print-Scan Rp.8.300.000
    Canon iR5570 Copy-Print-Scan Rp.8.500.000
    Canon iR6570 Copy-Print-Scan Rp.9.000.000
    Canon iR5075 Copy-Print-Scan Rp.10.500.000
    Canon iR5000 Copy-Print-Scan Rp.13.500.000
    Canon iR6000 Copy-Print-Scan Rp.14.700.000
    Canon iR5020 Copy-Print-Scan Rp16.500.00
    Canon IR6020 Copy-Print-Scan Rp.17.000.000
    CARA TRANSAKSI:
    Kami Hanya Melayani Yang Serius.
    Kami melayani pembeli di seluruh indonesia.
    Pembeli Diwajibkan Melakukan Pembayaran Harga Barang Yang Sesuai Dengan Barang Pesanannya.
    Pengiriman barang melalui: JNE, TIKI, dan POS Express
    Harga barang kami sudah termasuk ongkos kirim.
    Barang yang rusak atau cacat pada saat pengiriman, akan kami gantikan kembali dengan barang yang sama.

    KEUNTUNGAN BERBELANJA DI TOKO KAMI:
    Barang berkualitas dan harga relatif lebih murah.
    Dapat dikirim ke seluruh Indonesia.
    Ongkos kirim gratis.
    Keamanan dijamin 100% karena setiap pengiriman barang disertai dengan asuransi Dan Nomor resi
    Proses cepat dan sederhana.

    STOK READY Order sebelum Kehabisan
    Jangan ragu transaksi aman no tipu tipu…!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah dan Panduan Service Mesin Photocopy