PERANAN MANAJEMEN PERSONALIA DALM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI MI AN-NIDAUL ISLAMIYAH MUANGAN SARONGGI SUMENEP TAHUN PELAJARAN 2013/2014



PERANAN MANAJEMEN PERSONALIA DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI MI
AN-NIDAUL ISLAMIYAH MUANGAN SARONGGI TAHUN PELAJARAN 2013/2014


SKRIPSI


OLEH:
MARIA ULFA

NIM: 2009117010954
NIMKO: 2009.4.117.0001.1.00932







JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AQIDAH USYMUNI
(STITA)
TARATE PANDIAN SUMENEP
2013

 



PERANAN MANAJEMEN PERSONALIA DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI MI
AN-NIDAUL ISLAMIYAH MUANGAN SARONGGI TAHUN PELAJARAN 2013/2014




SKRIPSI


Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA) Tarate Pandian Sumenep Untuk Memenuhi Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Stara Satu (S.1) Pendidikan Agama Islam.




OLEH:
MARIA ULFA

NIM: 2009117010954
NIMKO: 2009.4.117.0001.1.00932








JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AQIDAH USYMUNI
(STITA)
TARATE PANDIAN SUMENEP
2013


LEMBAR PERSETUJUAN

Nama                           : Maria Ulfa
NIM                            : 2009117010954
NIMKO                      : 2009.4.117.0001.1.00932
Judul Penelitian           : Peranan Manajemen Personalia dalam Meningkatkan                                      Mutu Pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan                                    Saronggi Tahun Pelajaran 2013/2014

Telah diperiksa, dikoreksi, dan dibimbing sesuai dengan prosedur yang berlaku untuk disidangkan pada Ujian Skripsi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA) Tarate Pandian Sumenep pada tanggal………………….2013

Sumenep, ……………..…… 2013

Pembimbing I,

HM. HAFIDZ SYUKRI S.Hi, MM              ……….……………………………

Pembimbing II,

MUHAMMAD NIHWAN, M.Pd.I              ……….……………………………


Mengetahui,
Ketua Prodi PAI STITA Sumenep



MOH. ABDUH, M.Ag
NUP. 000520070004
LEMBAR PENGESAHAN

Nama                           : Maria Ulfa
NIM                            : 2009117010954
NIMKO                      : 2009.4.117.0001.1.00932
Judul Penelitian           : Peranan Manajemen Personalia dalam Meningkatkan                                     Mutu Pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan                                     Saronggi Tahun Pelajaran 2013/2014

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Ujian Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA) Tarate Pandian Sumenep tanggal 20 Oktober 2013

Dewan Penguji
Penguji I,

MUSTHAFA, S.Ag.,M.Pd.i                                     ………………………………

Penguji II,

Drs.H. JONO HADI, MH.                                        ………………………………

Penguji III,

NURUL KHATIM, S.Pd.,M.Pd.i                            ………………………………

Mengetahui,
Ketua STITA Sumenep



Drs. KH. A. SHAFRAJI, M.Pd.I
NUP. 000520070001
SURAT PERNYATAAN

Dengan ini, saya :
            Nama               : MARIA ULFA
            Nim                 : 2009117010954
            NIMKO          : 2009.4.117.0001.1.00932
            Jenjang            : Stara Satu (S.1)
            Jurusan            : Pendidikan Agama Islam



Menyatakan bahwa sripsi dengan judul “Perannan Manajemen Personalia Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Tahun Pelajaran 2013/2014” hasil karya sendiri (bukan hasil jiplakan/plagiasi) kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya dan tidak pernah diajukan pada lembaga tinggi mana pun sebagai salah satu syarat mendapat gelar akademik.


Sumenep, …………………..2013
Yang Menyatakan


MARIA ULFA







MOTTO




KESUKSESAN BERAWAL DARI KEGIGIHAN
KEGIGIHAN BERAWAL DARI KEMAUAN YANG TINGGI
KEGAGALAN ADALAH RINTANGAN
JANGAN MENYERAH SEBELUM KAMU MENDAPATKANNYA






HALAMAN PERSEMBAHAN

TULISAN INI DIPERSEMBAHKAN
Syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT
Karena dengan rahmat dan karunianya saya dapat menjalani semuanya,
Tulisan ini saya persembahkan kepada :

Bapak Ibu yang tidak pernah jenuh dalam mendidik dan mengayomi
dengan keikhlasannya dalam segala hal.

Para guru-guru yang telah meluangkan waktunya
untuk membimbing dan mendidik dengan ilmunya.

Suamiku yang telah setia mendampingi dan menemani
dalam segala hal hingga sampai sekarang.

Seluruh keluarga besar yang selalu mendukung serta mensupport
dalam semua kegiatan yang ada.

Serta tak lupa seluruh teman-teman seperjuanganku
 yang selalu ada menemaniku
sera mensupportku.

Terima kasih atas semuanya.

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Swt yang telah melimpahkan Rahmat, Taufiq, Hidayah, serta Inayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Sarjana Pendidikan Islam di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni.
Shalawat dan Salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad Saw yang telah menunjukkan jalan yang terang benderang dan berilmu pengetahuan seperti sekarang.
Dalam penyusunan Skripsi ini, penulis telah banyak menerima bimbingan, arahan, petunjuk, dorongan, serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu kepada mereka semua penulis hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dengan harapan Allah Swt memberi balasan yang lebih baik. Ucapan terima kasih ini penulis haturkan kepada :
1.      Bapak Drs. KH. A. Shafrayi, M.Pd.I selaku ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni.
2.      Bapak HM. Hafidz Syukri, S.Hi, MM selaku Pembimbing I atas kesabarannya mengkritik, memberikan masukan dan motivasi dalam penulisan proposal Skripsi ini.
3.      Bapak Muhammad Nihwan, M.Pd.I selaku Pembimbing II atas kesediaan dari pengorbanan waktunya, masukan dan kritiknya dalam penyusunan proposal Skripsi ni.
4.      Kedua orang tuaku yang telah mengasuh, mendidik dan senantiasa memberikan dukungan moril dan materil serta memotivasi selama penyusunan proposal Skripsi ini.
5.      Suamiku tercinta (Muklasim) yang telah sudi menemani dan mendampingi serta mengayomi sampai proposal ini selesai.
6.      Teman-temanku atau semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah dengan ikhlas menyayangi atas kontribusinya sehingga proposal ini akhirnya selesai juga.
Semoga yang diberikan kepada penulis menjadi amal ibadah yang diterima di sisi Allah Swt. Selain dari itu penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran serta masukan yang bersifat membangun dari semua pihak yang membaca. Penulis juga mengharap proposal ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk rahmat-Nya. Amin ya Robbal ‘alamin.

Sumenep,     Agustus 2013

Penulis


DAFTAR ISI
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
x
xii
xiii
xiv

1
4
5
5
6
7

8
16

35
36
37
37
38
42
 
HALAMAN SAMPUL …………………….……………………………….
HALAMAN JUDUL ……………………………………………….……….
HALAMAN PERSETUJUAN ……..……………………………………….
HALAMAN PENGESAHAN ………….………………………………......
HALAMAN PERNYATAAN ……………….…………………….............           
HALAMAN MOTTO ..………………….………………………………….
HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………………ii
KATA PENGANTAR …………………………………………………......
DAFTAR ISI ………………………………………………………….…….
DAFTAR TABEL ………………………………………………………….
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………
ABSTRAK ………………………………………………………….…….…
BAB I PENDAHULUAN
A.    Konteks Penelitian………………………………………………1
B.     Fokus Penelitian………………………………………………..  3
C.     Tujuan Penelitian………………………………………………. 4
D.    Kegunaan Penelitian…………………………………………...  4
E.     Alasan Pemilihan Judul………………………………………..   5
F.      Batasan Istilah………………………………………………......            5
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A.    Konsep Manajemen Personalia dalam Pendidikan ..…………..………
B.     Konsep Mutu Pendidikan ………………………………….....….
BAB III METODE PENELITIAN
A.    Pendekatan dan Jenis Penelitian……..………………..………..
B.     Kehadiran Peneliti………………….…………………..……… 14
C.     Lokasi Penelitian……….…………………………………..…..  15
D.    Sumber Data………………….…………………………………            15
E.     Prosedur Pengumpulan Data……….……………………………
F.      Analisis Data………………………………………………..….  19
G.   
43
44

46
51

61
62

Pengecekan Keabasahan ………..………………………..……..           
H.    Tahapan Penelitian..………………………………..….………..
BAB IV LAPORAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Paparan Data dan Temuan Penelitian …………………………….
B.     Pembahasan ……………………………………………………..
BAB V PENUTUP
A.    Simpulan …………………………………………………………….
B.     Saran ……………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
SURAT KETERANGAN PENELITIAN
SURAT PERNYATAAN MELAKSANAKAN PENELITIAN



DAFTAR TABEL

Tabel I             : Data Personil Sekolah ……………………………………  49
Tabel II           : Data Siswa Tahun 2013/2014 ……………………………  50
Tabel III          : Data Sarana dan Prasarana MI An-Nidaul Islamiyah ……  51



DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1      : Denah MI An-Nidaul Islamiyah
Lampiran 2      : Struktur Organisasi MI An-Nidaul Islamiyah
Lampiran 3      : Instrumen Peneliitan
Lampiran 4      : Kartu Konsultasi Skripsi




ABSTRAK

Ulfa, Maria. 2013. Peranan Manajemen Personalia dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Tahun Pelajaran 2013/2014. Pembimbing I: HM. Hafidz Syukri, S.Hi., MM. Pembimbing II: Muhammad Nihwan, M.Pd.I

Kata Kunci: Manajemen Personalia, Mutu Pendidikan

Performa Madrasah sampai saat ini masih sangat rendah. Beberapa permasalahan telah berhasil diidentifikasi menjadi penyebabnya, baik pada tingkat pendidikan yang kompleks. Kompleksitas permasalahan ini disebabkan oleh banyaknya variabel yang saling mempengaruhi, salah satunya adalah manajemen atau pengelolaan yang ada pada lembaga tersebut. Dalam rangka meningkatkan kualitas lembaga pendidikan Islam agar dapat menarik minat masyarakat untuk memasukkan putra-putri mereka ke Lembaga Pendidikan Islam maka sistem lama harus secepatnya dirubah dan melakukan inovasi-inovasi baru kearah itu untuk keberlangsungan kegiatan Madrasah. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengethui tentang bagaimana pelaksanaan manajemen personalia di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi, untuk mengetahui tentang peranan manajemen personalia dalam meningkatkan mutu pendidikan  di MI An-Nidaul Islamiyah Muangna Saronggi dan untuk mengetahui apa faktor penghambat dan pendukung pelaksanaan manajemen personalia di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi.
Penelitian yang penulis lakukan termasuk kedalam penelitian deskriptif kualitatif. Adapun metode pengumpulan datanya penulis menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisanya penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif yaitu berupa data-data tertulis maupun lisan dari orang dan perilaku yang diamati sehingga penulis berusaha menggambarkan secara menyeluruh keadaan yang sebenarnya.
Hasil penelitian yang telah dilakukan penulis dapat disampaikan disini bahwasanya manajemen personalia yang dikelola dengan profesional sebagai alternatif jalan keluar untuk meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah. Manajemen personalia ini dapat digunakan sebagai motor penggerak organiasai pendidikan sehingga madrasah dapat mengatasi keterbatasan sarana dan prasarana yang sering terjadi pada sekolah dan tetap mengikuti perkembangan jaman dan tentu saja perkembangan dunia pendidikan.


G.     
DAFTAR PUSTAKA

Al Barry, M. Dahlan. 1994. Kamus Modern Bahasa Indonesia. Yogyakarta : Balai Pustaka
Arcaro, S Jerome, 2005. Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-Prinsip dan Tata Langkah Penerapan. Yokyakarta : Pustaka Pelajar
Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Rineka Cipta.
Departemen Agama RI. 2005. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung : CV Penerbit J-ART
Didin Hafiduddin, Hendri Tanjung. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah (MPMBM), http.dikdasmen.depdiknas.go.id (diakses pada tanggal 03 juni 2013
Maksum, H. 1999. Madrasah : Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta : Logos
Moleong, J Lexy, 2004. Metode Penelitin Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya
Mulyasa, E, 2000. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya
Mulyasa, E, 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung :Remaja Rosdakarya
Nasir, M. 1988. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia
Pidarta, Made. 1988. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta : Bina Aksara
Poerdawarminta. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Soetopo Hendyat dan Soemanto, Wasti. 1985. Pengantar Oprasional Administrasi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.
Subroto, Suryo. 1988. Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah. Surabaya : Usaha Nasional.
Suderajat, Hari, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Bandung : CV Cekas Grafika.
Suryadi, Ace, 1992. Indikator Mutu dan Efisiensi Pendidikan Sekolah Dasar di Indonesia. Jakarta : Balitbang Depdikbud
Syaodihsukmadinata, Nana. et al, 2006. Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah : Konsep, Prinsip, Instrumen. Bandung : Refika Aditama.
Tilaar, Suryadi. Manajemen Pendidikan Nasional. Jakarta : Rineka Cipta
Umaedi. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan. Malang : Jurnal Administrasi Pendidikan FKIP UM Press.


Denah MI An-Nidaul Islamiyah
Muangan Saronggi Sumenep

C

D

B

B

A

B

B

B

B

F

E
 


 U






Ketarangan :
A.    Kantor MI An-Nidaul Islamiyah
B.     Ruang Kelas MI An-Nidaul Islamiyah
C.     Koperasi
D.    Kamar Mandi
E.     Perpustakaan Mini
F.      Ruang PAUD








Text Box: Kepala Sekolah Text Box: SYAFIUDIN, S.Pd.IText Box: Waka HumasText Box: TAUFIK ABDILLAH, S.PdIText Box: Wali Kelas IText Box: SRI MURTININGSIH, AMaText Box: Ketua YayasanText Box: AGUS MULYADI, S.PdText Box: Komite Sekolah Text Box: HARIYADIText Box: Waka SarprasText Box: SUPRIYADIText Box: Waka KesiswaanText Box: LIFFIYATI, S.Pd.IText Box: Waka KurikulumText Box: FAUSI, S.Pd.IText Box: Wali Kelas IIText Box: ERFAINI, A.MaText Box: Wali Kelas IIIText Box: KHATIMAHText Box: Wali Kelas IVText Box: AINUR RASYIDText Box: Wali Kelas VText Box: LILIK SOFIAWATI, S.PdText Box: Wali Kelas VIText Box: HASANAH, S.Pd


Text Box: SISWA


INSTRUMEN PENELITIAN
A.    Pedoman Observasi
1.      Mengamati kinerja kepala sekolah
2.      Mengamati hubungan antara kepala sekolah dengan staf guru dan karyawan serta para siswa-siswi
3.      Mengamati hubungan antara guru dengan karyawan
4.      Mengamati hubungan antara guru dengan siswa-siswi
5.      Mengamati kegiatan karyawan
6.      Mengamati kegiatan guru
7.      Mengamati keadaan lingkungan sekolah.

B.     Pedoman Wawancara
Responden : Kepala Sekolah, Guru dan Karyawan
Daftar pertanyaan :
Kepala Sekolah :
1.      bagaimana penerapan manajemen personalia di MI An-Nidaul Islamiyah?
2.      Bagaimana proses pengorganisasian program kerja personalia sekolah di MI An-Nidaul Islamiyah?
3.      Bagaimana proses kepemimpinan, pengawasan dan evaluasi kegiatan yang kepala sekolah lakukan di MI An-Nidaul Islamiyah?
4.      Bagaimana proses perencanaan pegawai?
5.      Bagaimana proses pengadaan pegawai
6.      Bagaimana proses pembinaan?
7.      Bagaimana proses penilaian kerja pegawai?
8.      Apa bentuk kesejahteraan yang diberikan kepada para pegawai?
9.      Apakah manajemen personalia yang solit dapat mempengaruhi mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah?
10.  Apa saja yang dilukukan untuk meningkatkan mutu pendidikan?
11.  Apa saja yang dilakukan untuk menghadapi faktor penghambat?

GURU
1.      Apakah bapak/ibu saat ini bekerja sesuai dengan bidang anda?
2.      Menurut bapak/ibu apakah mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah sudah baik?
3.      Apa yang bapak/ibu lakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah?
4.      Apa saja kendala yang bapak/ibu hadapi dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah?
5.      Apa usaha yang bapak/ibu lakukan untuk mengatasi kendala yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah?
6.      Menurut bapak/ibu apa peranan anda dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah?

Staf/Karyawan
1.      Apakah bapak/ibu saat ini bekerja sesuai dengan bidang anda?
2.      Bagaimana menurut anda keadaan lingkungan tempat anda bekerja saat ini?
3.      Menurut pengamatan anda selama menjadi karyawan di MI An-Nidaul Islamiyah ini adakah perubahan-perubahan yang terjadi terutama dalam bidang manajemen personalia?
4.      Apakah anda merasa nyaman bekerja di MI An-Nidaul Islamiyah?
5.      Apa saja kendala yang bapak/ibu hadapi dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah?
6.      Apa usaha yang bapak/ibu lakukan untuk mengatasi kendala yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah?
7.      Menurut bapak/ibu apa peranan anda dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah?



DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A.    Identitas Diri
1.      Nama Lengkap                        : MARIA ULFA
2.      Tempat, Tanggal Lahir            : Sumenep, 28 Maret 1992
3.      Jenis Kelamin                          : Perempuan
4.      Alamat                                                : Desa Muangan Kecamatan Saronggi
  Kabupaten Sumenep
5.      Jurusan                                    : Pendidikan Agama Islam (PAI)
6.      NIM                                        : 2009117010954
7.      NIMKO                                  : 2009.4.117.0001.1.00932

B.     Riwayat Pendidikan
1.      SDN Muangan Saronggi Sumenep Tahun 2002/2003
2.      MTs. At-Taufiqiyah Aengbajaraja Bluto Sumenep Tahun 2005/2006
3.      MA. At-Taufiqiyah Aengbajaraja Bluto Sumenep Tahun 2008/2009
4.      STIT Aqidah Usymuni Tarate Pandian Sumenep

C.    Pengalaman Organisasi
1.      Pengurus OSIS Bidang Pramuka MA. At-Taufiqiyah Aengbajaraja Tahun 2006-2008
2.      Kepala Daerah As-Syafaqoh Pondok Pesantren At-Taufiqiyah Tahun 2006-2008
3.      Pengurus UKM Asyfika STIT Aqidah Usymuni Tahun 2010/2012
4.      Anggota PMI Cabang Sumenep
5.      Pengurus Harian (Bendahara) Komisariat PMII STIT Aqidah Usymuni Tahun 2012
6.      Pengurus Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) STIT Aqidah Usymuni Tahun 2012-2013
7.      Pengurus Cabang PMII Sumenep Tahun 2013-2014






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Konteks Penelitian
Madrasah adalah salah satu bentuk kelembagaan pendidikan Islam yang memiliki sejarah sangat penting. Pendidikan Islam itu sendiri dalam pengetahuan umum (luas) dapat dikatakan muncul dan berkembang seiring dengan munculnya Islam itu sendiri, yakni berawal dari pendidikan Islam yang bersifat informal berupa dakwah Islamiyah untuk menyebarkan Islam terutama dalam hal yang berkaitan dengan aqidah. Pada masa ini berlangsung pendidikan Islam yang diselenggarakan di rumah-rumah yang dikenal dengan nama dar al arqam. Kemudian diselenggarakan di masjid-masjid yang dikenal dalam bentuk Halaqah. Kebangkitan madrasah merupakan awal dari bentuk pelembagaan pendidikan Islam secara formal (Maksum, 1999:VII).
Semua upaya dilakukan oleh pemerintah melalui departemen agama yang mengembangkan madrasah. Di Indonesia madrasah dipandang sebagai tranformasi pendidikan Islam dalam upaya untuk memenuhi  tuntutan dan perkembangan zaman. Madrasah merupakan lembaga keagamaan yang berakar pada sejarah yang panjang dan tumbuh dari bawah, Madrasah memiliki arti tersendiri dikalangan kaum muslim di Indonesia sehingga keberadaannya terus diperjuangkan dan dikembangkan melalui berbagai jalur.
1
Sebagai pendidikan yang sudah lama berkembang di Indonesia, Madrasah selain telah berhasil membina dan mengembangkan kehidupan beragama di Indonesia, juga ikut berperan dalam menanamkan rasa kebangsaan ke dalam jiwa rakyat Indonesia. Disamping itu madrasah juga sangat  berperan dalam kehidupan bangsa.
Didin (2003:45) menyatakan, pendekatan manajemen merupakan suatu keniscayaan apalagi jika dilakukan dalam organisasi suatu lembaga. Dengan organisasi yang rapi akan dicapai hasil yang baik, dari pada yang dilakukan secara individual. Dalam memperjuangkan agama dan menegakkan kalimat Allah, Rasulullah SAW selalu di perintahkan oleh Allah untuk berjuang bersama-sama dengan orang-orang yang beriman. Walaupun Rasulullah sendiri telah dijanjikan akan mendapat pertolongan-Nya. Sebagaimana yang termaktub dalam al-qur’an surat As- Shaf ayat 4:
إنّ الله يُحِبُّ الذيْنَ يُقاتِلُوْنَ في سَبِيلِهِ صَفًّا كأنَّهُمْ بُنْيانٌ مَرْصُوصٌ (الصّف : 4)
Artinya : ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh” (QS. As Shaf : 4). (Departemen Agama, 2005:551)

Manajemen pendidikan tidak bisa terlepas dari pelaksana (personal) manajemen tersebut. Apabila pelaksana (personal) manejemen tersebut mampu melaksanakan segala proses yang ada dalam manajemen dengan baik, maka semua komponen yang ada dalam lembaga tersebut akan berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan dan ditargetkan. Hal ini kepala madrasah dan seluruh komponen yang ada di madrasah dituntut memiliki visi, tanggung jawab, wawasan, dan keterampilan mengelola dengan sebaik-baiknya.
Usaha untuk mewujudkan lembaga pendidikan Islam yang konsisten dengan kualifikasi yang unggul memerlukan langkah-langkah yang praktis. Lembaga Pendidikan Islam seperti madrasah pertama-tama dituntut untuk melakukan perubahan-perubahan strategis untuk meningkatkan mutu pendidikannya.
Mutu pendidikan merupakan salah satu masalah pendidikan yang komplek. Kompleksitas permasalahan ini disebabkan oleh banyaknya variabel yang saling mempengaruhi, salah satunya adalah manajemen atau pengelolaan yang ada pada lembaga tersebut. Dalam rangka meningkatkan kualitas lembaga pendidikan Islam agar dapat menarik minat masyarakat untuk memasukkan putra-putri mereka ke lembaga pendidikan Islam maka sistem lama harus secepatnya dirubah dan melakukan inovasi-inovasi baru kearah itu.
Manajemen merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Tanpa manajemen, tujuan pendidikan tidak dapat diwujudkan secara optimal efektif dan efesien. Penerapan manajemen sekolah secara menyeluruh memerlukan perubahan mendasar terhadap aspek-aspek yang menyangkut keuangan, ketenagaan, kelas kurikulum, sarana dan prasarana serta partisipasi dari masyarakat dan lain-lain.
Oleh sebab itu peranan manajemen personalia dalam meningkatkan mutu madrasah sangat diperlukan. Mutu dan performa suatu madrasah tertentu tergantung bagaimana kualitas personal dalam mengelola dan mengembangkan sumber daya fikir yang ada di madrasah tersebut.
Madrasah Ibtidaiyah Muangan Saronggi ini merupakan madrasah yang sudah lama dibangun. Madrasah ini dibangun pada tahun 1985 dan mejadi madrasah satu-satunya di Muangan. Dalam perjalanannya, madrasah ini telah berhasil membangun beberapa lokal gedung, dan dapat meningkatkan jumlah siswa-siswinya setiap tahunnya. Padahal lingkungan disekitar madrasah tersebut dapat dikatakan lebih tertarik dengan sekolah umum yang mempunyai predikat bagus dan mempunyai nama di masyarakat. Selain itu kondisi sosio-ekonomi masyarakat disekitar madrasah ini masih rendah.
Untuk itu penulis tertarik untuk mengkaji tentang manajemen personalia yang ada di MI Desa Muangan Kecamatan Saronggi, karena madrasah tersebut berada di tempat yang sangat strategis yang dapat mengembangkan fasilitas-fasilitas penunjang bagi terciptanya pendidikan yang baik bagi peserta didik walaupun dengan beberapa keterbatasan infrastruktur. Oleh karena itu penulis mengambil judul “Peranan Manajemen Personalia dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Tahun Pelajaran 2013/2014”.
B.     Fokus Penelitian.
Sesuai dengan latar belakang serta permasalahan yang diuraikan diatas, maka peneliti menfokuskan pada :
1.      Bagaimana peranan manajemen personalia dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi?
2.      Bagaimana pelaksanaan manajemen personalia di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi?
3.      Faktor apa saja penghambat dan pendukung atas manajemen personalia dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi?
C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1.      Mendeskripsikan peranan manajemen personalia dalam meningkatkan mutu pendidikan yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi.
2.      Mendeskripsikan pelaksanaan manajemen personalia di  MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi
3.      Untuk menggambarkan faktor penghambat dan pendukung manajemen personalia dalam meningkatkan mutu pendidikan di  MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi.  
D.    Kegunaan Penelitian
1.      Bagi Jurusan Pendidikan Agama Islam di STIT Aqidah Usymuni
Usaha penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan dokumentasi melengkapi koleksi Jurusan Pendidikan Agama Islam.
2.      Bagi Lembaga Madrasah yang Terkait
Usaha penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan manajemen. Khususnya manajemen personalia yang ada di madrasah selanjutnya.
3.      Bagi Peneliti
Melalui penelitian ini peneliti dapat menambah wawasan paradigmatik dan pengalaman tentang manajemen personalia serta mengetahui kondisi riil yang ada di lapangan.


4.      Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian sejenis dengan substansi yang sama pada latar yang sama untuk lebih memperkuat temuan dalam penelitian ini.
E.     Alasan Pemilihan Judul
Dalam hal ini yang menjadi alasan penulis untuk memilih judul tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Alasan Obyektif
a.       Tercapainya manajemen personalia yang baik dalam meningkatkan mutu pendidikan
b.      Karena mengingat pentingnya peranan manajemen personalia dalam meningkatkan mutu pendidikan.
2.      Alasan Subyektif
a.       Penulis merasa perlu untuk mengetahui lebih jelas tentang peranan manajemen personalia dalam meningkatkan mutu pendidikan
b.      Karena MI An-Nidaul Islamiyah merupakan suatu lembaga yang diperkirakan bisa dijangkau oleh penulis untuk mempertimbamgkan jarak waktu, tenaga dan biaya.
F.     Batasan Istilah
Batasan istilah dalam penelitian ini diharapkan dapat menghindari adanya kesalah pahaman dalam pembahasan dan untuk mempermudah pemahaman dalam skripsi selanjutnya. Penelitian ini difokuskan pada peranan manajemen personalia (sebagai bagian dari manajemen pendidikan) dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Adapun batasan istilah dimaksud adalah :
1.      Peranan : merupakan fungsi pelaksanaan manajemen personalia yang saling mempengaruhi antara guru dan anak didik dimana guru harus bersikap proaktif dalam meningkatkan mutu pendidikan.
2.      Manajemen personalia : proses perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan evaluasi terhadap berbagai macam fungsi dan tugas sebagai salah satu usaha untuk mencapai tujuan secara optimal.
3.      Mutu  Pendidikan : kemampuan lembag pendidikan dalam mendaya gunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar yang sebaik mungkin.
Dari batasan tersebut dapat dipahami bahwa manajemen personalia merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam meningkatkan mutu pendidikan.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Konsep Manajemen Personalia dalam Pendidikan
1)      Pengertian Manajemen Personalia
Istilah manajemen saat ini lebih terkenal dan lebih sering dipakai dalam dunia pendidikan. Manajemen adalah proses untuk menyelenggarakan dan menguasai suatu tujuan tertentu.
Menurut Suetopo (1985:156) mengenai istilah personalia adalah sebagai berikut :
Istilah “personalia” berasal dari bahasa asing yang artinya adalah suatu golongan dari masyarakat yang penghidupannya dilakukan dengan bekerja untuk kepentingan organisasi yaitu untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan.
Manajemen personalia adalah manajemen yang berhubungan dengan perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan terhadap bermacam-macam fungsi pelaksanaan yang merupakan usaha untuk mendapatkan pengembangandan memelihara para pegawai sedemikian rupa sehingga tujuan organisasi dapat tercapai seefektif dan seefisien mungkin.

Sedangkan menurut Subroto (1988:45) yang dimaksud personalia atau personil ialah orang-orang yang melaksanakan suatu tugas untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini di sekolah dibatasi dengan sebutan pegawai. Oleh karana itu personil sekolah tentu saja meliputi unsur guru yang disebut dengan tenaga administratif.
8
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli manajemen tersebut, penulis mencoba merumuskan pengertian manajemen personalia dala  m pendidikan. Manajemen personalia dalam pendidikan adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan evaluasi terhadap berbagai macam fungsi dan tugas tenaga kependidikan sebagai usaha untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal, efektif dan efesien.
2)      Fungsi Manajemen Personalia
Menurut Mulyasa (2003:42) fungsi manajeman personalia yang harus dilaksanakan oleh pemimpin adalah menarik, mengembangkan, menggaji dan memotivasi personil guna mencapai tujuan sistem, membantu anggota mencapai posisi dan standar prilaku, memeksimalkan perkembangan karier tenaga kependidikan, serta menyelaraskan tujuan individu dan organisasi.
Pemaparan tentang fungsi manajemen diatas tersirat bahwa peran pemimpan sangat berpengaruh dalam pelaksanaan manajeman personalia. Namun peran kepala sekolah disini untuk memaksimalkan kinerja personil sekolah agar lebih efektif dan efesien dalam bekerja.
3)      Tujuan Manajemen Personalia
Menurut Suetopo dan Soemanto (1985:157), tujuan manajemen personalia adalah production minded atau dengan kata lain efficiency (daya guna) dan people minded atau dengan kata lain collaboration (kerjasama).
Sedangkan Mulyasa (2000:44) mengemukakan bahwa  manajeman personalia bertujuan untuk mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan efesien untuk mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan.
Dari kedua perumusan tujuan manajemen personalia diatas dapat diketahui bahwa tujuan manajemen personalia adalah untuk mengelola personil sekolah agar lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pendidikan, yang dimaksud efektif dan efisien disini adalah kinerja setiap personil.
4)      Pelaksanaan Manajemen Personalia
Mulyasa (2003:44) mengatakan sebagai berikut :
Pelaksanaan manajemen tenaga pendidikan (manajemen personalia) di Indonesia sedikitnya mencakup tujuan kegiatan utama, yaitu : (1) Perencanaan pegawai, (2) pengadaan pegawai, (3) pembinaan dan pengembangan pwgawai, (4) promosi dan motasi, (5) pemberhentian pegawai, (6) kompensasi, (7) penilaian. Semua itu perlu dilakukan dengan baik dan benar agar apa yang diharapkan tercapai, yaitu tersedianya tenaga pendidikan yang diperlukan dengan kualifikasi dan kemampuan yang sesuai serta dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik dan berkualitas.

a)      Perencanaan Pegawai.
Perencanaan atau planning adalah kegiatan awal dalam sebuah pekerjaan dalam bentuk memikirkan hal-hal yang terkait dengan pekerjaan itu agar mendapat hasil yang optimal (Didin, 2003:77).
 Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang didasarkan pada analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan bisa bersifat fisik dan psikis. Analisis yang bersifat fisik dapat digambarkan dengan kebutuhan yang ada dalam masyarakat, sedangkan analisis psikis dapat digambarkan dengan masyarakat yang tidak butuh dengan perencanaan ini sehingga perlu diberikan penyadaran.
Perencanaan pegawai merupakan kegiatan untuk menentukan kebutuhan pegawai, baik secara kuantitatif maupun kualitatif untuk sekarang dan masa depan. Penyusunan rencana personalia yang baik dan dapat memerlukan informasi yang lengkap dan jelas tentang pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan dalam organisasi. Karena itu sebelum menyusun rencana, perlu dilakukan analisis pekerjaan (job analisis) dan analisis jabatan untuk memperoleh deskripsi pekerjaan (gambaran tentang tugas-tugas dan pekerjaan yang harus dilaksanakan). Informasi ini sangat membantu dalam menentukan jumlah pegawai yang diperlukan, dan juga untuk menghasilkan spesifikasi pekerjaan (job specification). Spesifikasi jabatan ini memberi gambaran tentang kualitas minimum pegawai yang dapat diterima dan yang perlu untuk melaksanakan sebagaimana mestinya (Mulyasa, 2000:44).
b)      Pengadaan personalia
Pengadaan pegawai merupakan kegiatan untuk memnuhi kebutuhan pegawai pada suatu lembaga, baik jumlah maupun kualitasnya.  Untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan kebutuhan dilakukan kegiatan rekrutmen, yaitu usaha untuk mencari dan mendapatkan calon-calon pegawai yang sesuai syarat sebanyak mungkin, untuk kemudian dipilih calon terbaik yang cakap.
Kepentingan tersebut perlu dilakukan seleksi, melalui ujian lisan, tulisan dan praktek. Namun adakalanya, pada intern atau dalam organisasi, pegawai dapat didatangkan darin intern organisasi saja, apakah melalui promosi atau mutasi. Hal tersebut dilakukan apabila formasi yang kosong sedikit, sementara pada bagian lain ada kelebihan pegawai atau memang sudah dipersiapkan.
c)      Pembinaan dan pengembangan
Organisasi senantiasa menginginkan agar personil-personilnya melaksanakan tugas secara optimal dan menyumbangkan segenap kemampuanyya untuk kepentingan organisasi, serta bekerja dengan baik dari hari ke hari. Disamping itu, pegawai sendiri, sebagai manusia, juga membutuhkan peningkatan dan perbaikan pada dirinya termasuk dalam tugasnya. Sehubungan dengan itu, fungsi pembinaan dan pengembangan pegawai merupakan fungsi pengelolaan personil yang mutlak perlu, untuk memperbaiki, menjaga dan mingkatkan kinerja pegawai. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara on the job training dan in service training. Kegiatan pembinaan dan pengembangan ini tidak hanya menyangkut aspek kemampuan, tetapi juga menyangkut karir pegawai.
d)     Promosi dan mutasi
Setelah diperoleh dan ditentukan calon pegaai yang akan diterima, kegiatan selanjutnya adalah mengusahakan supaya calon pegawai tersebut menjadi anggota organisasi yang sah sehingga menjadi mempunyai hak dan kewajiban sebagai anggota organisasi atau lembaga. Di Indonesia, untuk pegawai negeri sipil, promosi atau pengangkatan pertama biasanya diangkat menjadi calon Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan masa percobaan satu atau dua tahun, kemudian ia mengikuti latihan prajabatan, dan setelah lulus diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil penuh. Setelah pengangkatan pegawai, kegiatan berikutnya adalah penempatan atau penugasan. Dalam penempatan atau penugasan ini diusahakan adanya kongruensi yang tinggi antara tugas dan yang menjadi tanggung jawab pegawai dengan karakteristik pegawai. Untuk mencapai tingkat kongruensi yang tinggi dan membantu personil supaya benar-benar siap secara fisik dan mental untuk mencapai tugasnya, perlu dilaksanakan fungsi orientasi, baik sebelum maupun sesudah penempatan.
e)      Pemberhentian
Pemberhentian pegawai merupakan fungsi personalia yang menyebabkan terlepsanya pihak organisasi dan personil dari hak dan kewajiban sebagai lembaga tempat bekerja dan sebagai pegawai. Untuk selanjutnya mngkin masing-masing pihak terikat perjanjian dan ketentuan sebagai bekas pegawai dan bekas lembaga tempat bekerja. Dalam kaitannya dengan tenaga kependidikan sekolah, khusunya Pegawai Negeri Sipil, sebab-sebab pemberhentian ini dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, (1) pemberhentian atas permohonan sendiri; (2) pemberhentian oleh dinas atau pemerintahan; dan (3) pemberhentian sebab yang lain.
Pemberhentian atas permohonan pegawai sendiri, misalnya karena pindah lapangan kerja yang bertujuan memperbaiki nasib. Pemberhentian oleh dinas atau pemerintahan bisa dilakukan karena beberapa alasan berikut :
1.      Pegawai yang bersangkutan tidak cakap dan tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik;
2.      Perampingan atau penyederhanaan organisasi;
3.      Peremajaan, biasanya pegawai yang telah berumur lebih dari 50 tahun dan berhak pension harus diberhentikan dalam jangka waktu satu tahun;
4.      Tidak sehat jasmani dan rohani sehingga tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik;
5.      Melakukan pelanggaran tidak pidana sehingga dihukum penjara atau kurungan;
6.      Melanggar sumpah atau janji pegawai negeri sipil.
Sementara pemberhentian karena alasan lain penyebabnya adalah pegawai yang bersangkutan meninggal dunia, hilang, habis menjalani cuti diluar tanggungan Negara dan tidak melaporkan diri kepada yang berwenang, serta setelah mencapai batas usian pension.
f)       Kompensasi
Kompensasi adalah balas jasa yang diberikan organisasi kepada pegawai yang tidak dapat dinilai denan uang dan mempunyai kecenderungan diberikan secara tetap. Pemberian kompensasi, selain dalam ben tuk gaji, dapat berpa tunjangan fasilitas perumahan, kendaraan, dan lain-lain. Masalah kompensasi merupakan salah satu bentuk tantangan yang harus dihadapi manajemen. Dikatakan tantangan karena imbalan yang diterima oleh para pekerja tidak lagi dipandang sebagai semata-mata alat pemuas kebutuhan materialnya, akan tetapi sudah dikaitkan dengan harkat dan martabat manusia. Sebaiknya, organisasi cenderung melihatnya sebagai beban yang harus dipikul oleh organisasi tersebut dalam rangka mencapai tujuan dan berbagai sasaran. Dalam mengembangkan dan menerapkan suatu sistem imbalan tertentu, kepentingan organisasi dan para pekerja perlu diperhitungkan.
g)      Penilain
Untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang dikemukakan terdahulu, diperlukan sistem penilaian pegawai secara obyektif dan akurat. Penilaian tenaga kependidikan ini difokuskan pada prestasi individu dan peran sertanya dalam kegiatan sekolah. Penilaian ini bukan hanya berguna sebagai umpan balik berbagai hal, seperti kemampuan, keletihan, kekurangan, dan potensi yang pada gilirannya akan bermanfaat untuk menentukan tujuan, jalur, rencana, dan pengembangan karir. Bagi sekolah penilaian tenaga kependidikan sangat penting dalam pengambilan keputusan berbagai hal, seperti identifikasi kebutuhan program sekolah, penerimaan, pemilihan dan pengenalan, penempatan, promosi, sistem imbalan dan aspek lain dari keseluruhan proses efektif sumber daya manusia.
Tugas kepala sekolah dalam kaitannya dengan manajemen tenaga kependdidikan bukanlah pekerjaan yang mudah, karena tidak hanya mengusahakan tercapainya tujuan sekolah, tetapi juga tujuan tenaga kependidikan (guru dan pegawai) secara pribadi. Karena itu, kepala sekolah dituntut untuk mengerjakan instrumen pengelolaan tenaga kependidikan seperti daftar absensi, daftar urut kepangkatan, daftar riwayat hidup, daftar riwayat pekerjaan, dan kondiisi pegawai untuk membantu kelancaran manajemen di sekolah (Mulyasa, 2000:45).
B.     Konsep Mutu Pendidikan
1)      Pengertian Mutu Pendidikan
Secara etimologis, mutu adalah kualitas, derajat, tingkat, kadar, dan nilai (Barry, 1994:432). Sedangkan dalam kamus Bahasa Indonesia mutu berarti kadar, baik buruknya sesuatu, kualitas, taraf/derajat, kepandaian atau kecerdasan (Purdawarminta, 1976:732).  
Secara umum, mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuan dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. Dalam konteks pendidikanpengertian mutu mencakup input, proses dan output pendidikan.
Menurut Suryadi, (1992:159) mutu pendidikan artinya kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin. Dilihat dari pengertian diatas, untuk meningkatkan mutu pendidikan harus menerapkan program pendidikan yang efisien, yang ditandai dengan pola penyebaran dan pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang sudah ditata secara efisien. Dengan demikian, sistem atau program pendidikan yang efisien ialah yang mampu mendistribusikan sumber-sumber pendidikan secara adil dan makmur agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk mendayagunakan sumber-sumber pendidikan tersebut dan mencapai hasil yang maksimal. Maksudnya yaitu, mutu pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan konsep efektifitas, keadilan dan pemerataan.
Efektifitas pendidikan dapat dilihat dari sudut prestasi, yaitu mampu menampung masukan yang banyak dan menghasilkan tamatan yang banyak, bermutu dalam arti mampu bersaing di pasaran atau lapangan kerja yang ada dan diperlukan, relevan dalam arti adanya keterkaitan dan kesepadanan dengan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun, baik berkenaan dengan ketenagaan maupun dengan ilmu yang dihasilkan, dan mempunyai nilai ekonomis dalam arti tamatan yang dikeluarkan mempunyai makna ekonomi yang paling sedikit memperoleh penghargaan yang layak (Mulyasa, 2003:12).
Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh tecapainya tujuan pendidikan secara integral. Tercapainya mutu pendidikan adalah satu bentuk keberhasilan yang dicapai lembaga pendidikan dengan baik, berupa nilai, kadar derajat dan juga beimplikasi dalam pembentukan siswa yang berkualitas.
Jadi pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas yaitu lulusan yang memiliki prestasi akademik dan non akademik yang mampu menjadi pelopor pembaharuan dan perubahan sehingga mampu menjawab berbagai tantangan dan permasalahan yang dihadapinya, baik itu dimasa sekarang atau masa yang akan dating. Mutu pendidikan bukanlah suatu konsep yang berdiri sendiri akan tetapi terkait erat dangan tuntunan dan kebutuhan masyarakat.    
2)      Indikator Mutu Pendidikan
Umaedi (2000:123) terdapat beberapa indikator yang menunjukkan ciri-ciri pendidikan bermutu antara lain:
a.       Lingkungan madrasah yang aman dan tertib.
b.      Madrasah memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai.
c.       Madrasah memiliki kepemimpinan yang kuat.
d.      Adanya harapan yang tinggi dari personel madrasah (kepala madrasa, guru dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi.
e.       Adanya pengembangan staf madrasah yang terus-menerus sesuai tuntutan IPTEK.
f.       Adanya pelaksanaan evaluasi yang terus-menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan atau perbaikan mutu.
g.      Adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid atau masyarakat.

Pendidikan yang bermutu merupakan tujuan pendidikan secara integral. Tercapainya mutu pendidikan adalah satu bentuk keberhasilan yang dicapai lembaga pendidikan dengan baik, berupa nilai, kadar derajat dan juga beimplikasi dalam pembentukan siswa yang berkualitas.
Pembentukan siswa yang berkualitas berdampak pada keseluruhan proses dan individu yang berada padasekolah tersebut. Oleh karena itu pemerintah mendesentralisasikan fungsi-fungsi pendidikan pada sekolah untuk mengelola pendidikannya dengan maksimal.
Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Sesuatu yang dimaksud berupa sumber daya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Input sumber daya meliputi kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, peralatan dan perlengkapan, uang, bahan, dan sebagainya. Input perangkap meliputi organisasi sekolah, peraturan undang-undang, deskripsi tugas, rencana program dan lain sebagainya. Input berupa harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan dan sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input.
Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungunya proses disebut input, sedangkan hasil dari proses disebut output. Dalam pendidikan berskala mikro (tingkat madrasah) proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan proses monitoring, dan evaluasi dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya.
Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan. Input madrasah (guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan, dan sebagainya) dilakukan secara harmonis sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning) mampun mendorong motivasi dan minat belajar sehingga mempu memberdayakan peserta didik. Kata memberdayakan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekedar mengetahui pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya, akan tetapi pengetahuan tersebut telah menjadi muatan nurani peserta didik, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, yang lebih penting bagi peserta didik mampu belajar secara terus-menerus (mampu mengembangkan dirinya).
Output pendidikan merupakan kinerja madrasah. Kinerja madrasah adalah prestasi madrasah yang dihasilkan dari proses atau perilaku madrasah. Kinerja madrasah dapat diukur dari kualitas, efektivitas, produktifitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja, dan moral kerja. Khusus yang berkaitan dengan mutu output madrasah dikatakan berkualitas jika prestasi madrasah khususnya prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam prestasi akademik maupun non-akademik.
Mutu madrasah dipengaruhi oleh banyaknya tahapan kegiatan yang saling berhubungan seperti perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan.
Strategi mutu terpadu dalam pendidikan mencapai tiga pengertian yaitu mencakup semua proses (every proses) mencakup setiap pekerjaan (every job) dan setiap orang (every person) terpadu dalam setiap proses. Proses juga mencakup keterpaduan dimulai dari rancangan konstruksi penelitian dan pengembangan, keuangan, pemasaran, perbaikan dan fungsi lain harus terlibat di dalamnya.
3)      Karakteristik Mutu Pendidikan
Tilaar (2002:34) mengemukakan kreteria sekolah yang efektif di Indonesia dengan :
1.      Sekolah yang memiliki kemampuan akademis yang diterapkan dalam kurikulum Nasional (kreteria ini disebut kreteria akademik).
2.      Sekolah yang mampu mendidik siswanya untuk berkepribadian yang luhur, bermural dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (kreteria ini disebut juga dengan kreteria religio-moral)
3.      Sekolah yang mampu menghasilkan tenaga pembangunan yang tampil dalam jumlah memadai untuk berbagai sektor pembangunan (kreteria ini disebut juga kreteria relevansi atau ketenagakerjaan).

Adapun kreteria pendidikan bermutu yang sesuai dengan alam Indonesia, dengan menggunakan gabungan dari ketiga perspektif di atas adalah sebagai berikut :
a)      Sekolah yang mampu mendidik muridnya berkepribadian luhur, bermoral, bertaqwa, berwawasan Nasional dan kebangsaan.
b)      Sekolah yang mampu menanamkan secara komprehensif atas keterampilan dasar untuk mencapai prestasi akademik berdasarkan kurikulum Nasional serta mengembangkan bakat dan minat individual melalui pencapaian prestasi non akademik.
c)      Sekolah yang mampu menanamkan wawasan lingkungan dan sistem nilai yang merefleksi sosio-kultural relegius khas Indonesia yang bermuatan pada pemahaman konsep diri atau percaya diri.
d)     Sekolah yang mampu menjalin kelangsungan hubungan kemitraan yang harmonis dan sehat kepala sekolah, guru, orang tua murid sehingga timbul pengakuan dan dukungan positif dari mereka.
e)      Sekolah yang mampu membuktikan kepemimpinan kepala sekolah accountable secara administratif dan akademik.
f)       Sekolah yang mampu menciptakan iklim yang sehat, bersemangan, dan bermotivasi tinggi pada semua komunitas sekolah.
g)      Sekolah yang mampu mengembangkan kreatifitas guru dalam mengajar secara kontinyu, melakukan evaluasi, perubahan dan perbaikan pengajaran.
h)      Sekolah yang mampu membangkitkan murid untuk berpartisipasi dan memanfaatkan potensi akademik dan non-akademik sebagai sarana menumbuhkan motivasi dan belajar teman-teman sebaya.
Berdasarkan kedelapan kreteria tersebut dapat penulis simpulkan bahwa sekolah yang efektif dapat melahirkan siswa yang berkepribadian luhur, berwawasan luas, kreatif serta mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya secara baik.
Tranformasi menuju sekolah bernutu diawali dengan mengadopsi dedikasi bersama terhadap mutu oleh dewan sekolah, administrator, staf, siswa, guru, dan komonitas. Proses diawali dengan mengembang visi dan misi mutu untuk wilayah dan setiap sekolah serta departemen tersebut.
Visi mutu meliputi hal-hal berikut :
a)      Pemenuhan kebutuhan Costumer
Dalam sebuah sekolah yang bermutu, setiap orang menjadi costomer dan sebagai pemasok sekaligus. Secara khusus costomer sekolah adalah siswa dan keluarganya. Merekalah yang akan mengerti manfaat dari hasil proses dari sebuah lembaga pendidikan (mandrasah). Sedangkan dalam kajian umum customer madrasah ada dua yaitu customer internal, meliputi orang tua, siswa, guru, administrator dan dewan madrasah yang derada dalam sistem pendidikan. Customer ekternal meliputi masyarakat, perusahaan, kalangan militer dan perguruan tinggi yang berada diluar organisasi namun memanfaatkan output dari proses pendidikan.
b)      Keterlibatan total komunitas dalam program
Setiap orang juga harus terlibat dan berpartisipasi dalam rangka menuju kearah traformasi mutu. Mutu bukan hanya tanggung jawab dewan sekolah atau pengawas akan tetapi merupakan tanggung jawab semua pihak.
c)      Pengukuran nilai tambah pendidikan
Pengukuran ini juga yang sering kali gagal disekolah. Secara tradisional ukuran mutu atas sikap adalah prestasi siswa. Ukuran dasarnya adalah ujian, bila hasil ujian bertambah baik maka mutu pendidikanpun akan membaik.
d)     Memandang pendidikan sebagai suatu sistem
Pendidikan mesti dipandang sebagai suatu sistem. Ini merupakan suatu konsep yang sulit dipahami oleh profesional pendidikan. Umpamanya orang bekerja dalam bidang pendidikan memulai perbaikan sistem tanpa mengembangkan pemahaman yang penuh atas cara sistem tersebut bekerja. Hanya memandang pendidikan sebagai sebuah sistem maka para professor pendidikan dapat mengeliminasi pemborosan dari pendidikan dan dapat memperbaiki mutu setiap proses pendidikan.
e)      Perbaikan berkelanjutan dengan selalu berusaha keras membuat output pendidikan menjadi lebih baik
Mutu pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat diperbaiki, menurut filosofi manajemen lama “kalau belum rusak jangan diperbaiki“. Mutu didasarkan pada konsep bahwa setiap proses dapat diperbaiki dan tidak ada proses yang sempurna. Menurut filosofi manajemen yang baru “bila tidak rusak perbaikilah karena bila tidak dilakukan maka orang lain yang akan melakukannya“. Inilah konsep perbaikan berkelanjutan.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan bahwa manajemen peningkatan mutu pendidikan bukanlah suatu proses sesekali jadi dan bagus hasilnya ( one shoot and quick fixs ). Akan tetapi merupakan suatu proses yang berlangsung secara terus-menerus dan melibatkan semua pihak yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan (Arcaro, 2005:89).  
4)      Prinsip Mutu Pendidikan
Prinsip yang perlu dipegang dalam menerapkan program mutu pendidikan diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Peningkatan mutu pendidikan mencakup kepemimpinan profesional dalam bidang pendidikan. Manajemen mutu pendidikan merupakan alat yang digunakan oleh para profesianal pendidikan dalam memperbaiki sistem pendidikan bangsa kita.
b.      Kesulitan yang dihadapi para profesional pendidikan adalah ketidak mampuan mereka dalam menghadapi “kegagalan sistem” yang mencegah mereka dalam pengembangan atau penerapan cara atau proses baru untuk memperbaiki mutu pendidikan yang ada.
c.       Peningkatan mutu pendidikan harus melakukan loncatan-loncatan norma kepercayaan lama harus dirubah. Sekolah harus belajar bekerja sama dengan sumber-sumber yang terbatas. Para profesional pendidikan harus membantu para siswa dan mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan guru bersaing di dunia global.
d.      Uang bukan kunci utama dalam peningkatan mutu. Mutu pendidikan dapat diperbaiki jika administrator, guru, staf pegawai, dan pimpinan kantor mengembangkan sikap yang terpusat pada kepemimpinan team work, kerja sama, akuntabilitas, rekognisi. Uang tidak menjadi penentu dalam peningkatan mutu.
e.       Kunci utama meningkatkan mutu pendidikan adalah komitmen para perubah. Jika guru dan staf sekolah telah memiliki komitmen pada perubahan, pemimpin dapat dengan mudah mendorong mereka menemukan cara baru untuk memperbaiki efisiensi, produktifitas layanan pendidikan. Guru akan menggunakan pendidikan yang baru atau menggunakan model-model mengajar, membimbing dan melatih dalam membantu perkembangan siswa. Demikian juga staf administrasi, ia akan menggunakan proses baru dalam menyusun biaya, menyelesaikan masalah dan mengembangkan program baru.
f.       Banyak profesional dibidang pendidikan yang kurang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam menyiapkan para siswa memasuki pasar kerja yang bersifat global. Ketakutan terhadap perubahan akan mengakibatkan ketidak tahuan dalam mengantisipasi tuntutan-tuntutan.
g.      Program peningkatan mutu dalam bidang komersial tidak dapat dipakai secara langsung dalm pendidikan, tetapi membutuhkan penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan budaya, lingkungan dan proses kerja organisasi. Para profesional pendidikan harus dibekali oleh program yang khusus dirancang untuk pendidikan. Salah satu komponen kunci dalam program mutu adalah sistem pengukuran dengan menggunakan sistem pengukuran memungkinkan para professional pendidikan dapat memperlihatkan dan mendokumentasikan nilai tambah dari program peningkatan mutu pendidikan baik terhadap siswa, orang tua maupun masyarakat.
h.      Masyarakat dan manajemen pendidikan harus menjauhkan diri dari kebiasaan menggunakan “program singkat” peningkatan mutu dapat dicapai melalui perubahan yang berkelanjutan tidak ada program singkat (Syaudih, 2006:9-11)
5)      Peranan Manajemen Personalia Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses kependidikan secara keseluruhan. Alasannya, tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif, dan efesien.
Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas yang ringan karena tidak hanya keterkaitan dengan permasalahan teknis akan tetapi mencakup berbagai persoalan yang sangat rumit dan kompleks, baik yang mencakup perencanaan, pendanaan, efesiensi dan efektifitas penyelenggaraan sekolah.
Peningkatan kualitas pendidikan juga menuntut manajemen yang baik. Sayangnya selama ini aspek manajemen pendidikan pada berbagai tingkat dan satuan pendidikan belum mendapat perhatian yang serius sehingga seluruh komponen sistem pendidikan kurang berfungsi dengan baik. Lemahnya manajemen pendidikan juga member dampak terhadap efesiensi internal pendidikan yang terlihat dari jumlah peserta didik mengulang kelas dan putus sekolah.
Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan menentukan efektif dan tidaknya kurikulum, berbagai peralatan belajar, waktu mengajar, dan proses pembelajaran (Mulyasa, 2003:22).
Dengan demikian upaya meningkatkan kualitas pendidikan harus dimulai dengan pembenahan manajemen sekolah, disamping peningkatan kualitas guru dan pengembangan sumber belajar. Upaya perubahan ini termaktub dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d Ayat 11 yang berbunyi :
لَه مُعَقّبتٌ مِنْ بَيْن يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ أمْراللهِ, إنَّ اللهَ لايُغَيِّرُمَابِِِِِقَََوْمٍ حَتّي يُغَيِّرُوْا مَا بِأنْفُسِهِم, وَإذَاأرَادَاللهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلامَرَدَّلَهُ, وَمَالَهُمْ مِنْ دُوْنِهِ مِنْ وَالٍ (ألرَّعْدُ : 11)
Artinya : “ Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak pernah merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. Ar-Ra’d : 11). (Departemen Agama, 2005:250)

Perubahan merupakan hal yang sering terjadi dalam masyarakat. Begitu juga dalam dunia pendidikan perubahan kearah yang positif harus dilakukan oleh para pelaku pendidikan untuk menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Walau bagaimanapun juga output pendidikan pada akhirnya akan dikembalikan pada Stakeholder yaitu masyarakat itu sendiri.
Untuk mewujudkannya manusia selaku makhluk bermasyarakat harus selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan organisasi, karena manusia menjadi perencana, pelaku dan penentu terwujudnya tujuan organisasi. Tujuan tidak mungkin terwujud tanpa peran aktif karyawan meskipun alat-alat yang dimiliki begitu canggihnya. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 249 :
. . . . قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أنَّهُمْ مُّلقُوااللهِ كَمْ مِنْ فِئةٍ قَليْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً بإذنِ اللهِ, وَاللهُ مَعَ الصّبِرِيْنَ (ألبَقرَة : 249)
Artinya : “….. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata : berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqorah : 249). (Departemen Agama, 2005:41)

Dari ayat diatas termaktub bahwa orang-orang dalam organisasi merupakan penentu keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi. Hal tersebut juga berlaku dalam dunia pendidikan sebab walaupun sumber pendidikan yang lain lengkap, misalnya mencukupi biaya lengkap, bahan pembelajaran tersedia, sarana dan prasarana terlengkapi pelaksana pendidikan tidak mempunyai kompetensi yang memadai dan berdedikasi, belum tentu tujuan pembelajaran akan tercapai.
Sebaliknya bila personalia pendidikan memiliki kompetensi dan dedikasi yang baik walaupun sumber-sumber pendidikan yang lain kurang lengkap atau beberapa diantaranya tidak tersedia, para pelaksana pendidikan akan tetap melaksanakan tugasnya. Dengan inisiatif dan kreatifitas mereka dapat membawa siswa-siswanya kedalam proses belajar mengajar yang relatif baik. Sehinga para siswa-siswanya akan memahami materi yang pada akhirnya tujuan pendidikan akan dapat dicapai dengan maksimal.
Personalia pendidikan yang kreatif dan berpartisipasi aktif dalam pengembangan organisasi sangat dibutuhkan. Sebab mereka adalah orang-orang yang mampu mempertahankan kelangsungan hidup organisasi dari kepunahan akibat tuntunan zaman. Disamping itu orang-orang ini pula yang mampu merealisasikan visi menjadi aksi yang nyata.
Selain itu, program-program sekolah didukung oleh kinerja team work yang kompak dan transparan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan di sekolah. Dalam dewan pendidikan dan komite sekolah misalnya pihak-pihak yang terlibat bekerja sama secara harmonis dan sesuai dengan posisi masing-masing.
Keberhasilan sebuah organisasi bukan ditentukan oleh kekuatan seseorang saja akan tetapi kerja sama yang baik antara bagian-bagiannya. Pada setiap bagian akan menjalankan fungsinya dengan baik apabila dipacu oleh lingkungan yang kondusif dan menguasai apa yang diembannya. Oleh karena itu diperlukan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan personilnya.
Begitu pula pada organisasi pendidikan juga diperlukan suatu kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan profesionalitasnya. Beberapa alternatif kegiatan yang bisa dilakukan oleh kepala sekolah untuk meningkatkan kemampuan profesional tenaga pendidikan, yaitu sebagai berikut :
a)      Mengikutsertakan guru-guru seminar dan pelatihan yang diadakan oleh lembaga pendidikan maupun di luar lembaga pendidikan yang materinya sesuai dengan bidang yang diemban.
b)      Peningkatan profesionalisme guru melalui KKG (Kelompok Kerja Guru). Melalui wadah ini para guru diarahkan untuk mencari berbagai pengalaman mengenai metode pembelajaran dan bahan ajar yang diterapkan di kelas.
c)      Meningkatkan kesejahteraan guru, karena merupakan salah satu faktor penentu dalam peningkatan kerja, yang secara langsung berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Peningkatan kesejahteraan guru dapat dilakukan dengan memberikan insentif di luar gaji, imbalan dan penghargaan serta tunjangan-tunjangan yang dapat meningkatkan kinerja mereka (Mulyasa, 2000:78-79).
Dengan berbagai kegiatan diatas, diharapkan setiap personil sekolah dapat meningkatkan produktifitasnya, sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Dengan meningkatnya mutu pendidikan akan menghasilkan output yang bermutu pula yang pada akhirnya tercapainya tujuan pendidikan seperti yang diharapkan.
Akan tetapi rendahnya produktifitas tenaga kependidikan di sekolah baik dalam mengikuti aturan dan tata tertib sekolah maupun dalam melakukan pekerjaannya sangat erat kaitannya dengan masalah disiplin. Oleh karena itu dibutuhkan peningkatan disiplin dengan menciptakan lingkungan yang kondusif dan tidak memotivasi kinerja para personal sekolah dengan maksimal.
Sekolah harus membuat peraturan yang ditaati khususnya oleh warga sekolah, guru, peserta didik, karyawan, dan kepala sekolah. Aturan tata tertib itu meliputi waktu masuk dan pulang sekolah, kehadiran di sekolah dan di kelas serta proses pembelajaran yang sedang berlangsung dan tata tertib lainnya. Dengan meningkatnya disiplin diharapkan dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi jam belajar sesuai dengan waktu yang ditentukan dan meningkatkan lingkungan belajar yang kondusif untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan dan mencapat hasil belajar peserta didik yang lebih baik.
Menurut Mulyasa (2000:36) dalam bukunya yang berjudul menjadi Kepala Sekolah Profesional mengemukakan bahwa sikap mental tampak dalam berbagai kegiatan, antara lain :
a)      Berkaitan dengan diri sendiri, dapat dilakukan melalui peningkatan :
1.      Pengetahuan
2.      Keterampilan
3.      Disiplin
4.      Upaya pribadi
5.      Kerukunan kerja
b)      Berkaitan dengan pekerjaan, dapat dilakukan melalui :
1.      Manajemen dan cara kerja yang baik
2.      Penghematan biaya
3.      Ketepatan waktu
4.      Sistem dan teknologi yang canggih

Mudah dipahami bahwa produktifitas pendidikan ditentukan oleh praktek dan tradisi / kebiasaan pekerja personilnya. Bila para personilnya memiliki kebiasaan bekerja secara efektif dan efisien maka akan dapat meningkatkan produktifitasnya, sebaliknya bila mereka memiliki kebiasaan bekerja dengan santai dan kurang cermat akan dapat merugikan organisasi.
Produktifitas yang rendah antara lain disebabkan oleh rendahnya etos kerja dan disiplin. Salah satu indikator dari masalah ini adalah rendahnya prestasi belajar yang dapat dicapai peserta didik, baik prestasi akademis yang  tertera dalam buku laporan pendidikan dan nilai ujian akhir maupun prestasi non-akademis serta partisipasinya dalam kehidupan dan memecahkan berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut, iklim organisasi memang perlu untuk dibina dan ditingkatkan.
Menurut Budhisantoso dalam Pidarta (1988:135) mengemukakan bahwa iklim organisasi juga mengacu pada ketertiban organisasi. Ketertiban ialah keadaan yang pelaku-pelakunya mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku sesuai dengan ruang waktu, dan sifat kegiatan yang nyata.
Iklim sekolah yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman, nyaman, dan tertib sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan. Iklim sekolah yang seperti ini akan mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang efektif. Sehingga akan memupuk tumbuhnya kemandirian dan bersifat adaptif dan proaktif.
Bila manajer pendidikan dapat merealisasikan kepribadian anak buahnya dengan cara persuasi dan member teladan untuk dapat belajar keras dengan penuh disiplin dan dilakukan dengan semangat kekeluargaan, maka moral kerja mereka secara individu maupun kelompok akan mencerminkan nilai-nilai seperti ini dan berlangsung relatif lama, maka ia akan menjelma menjadi iklim organisasi yang sehat dan positif. Memang pengembangan pribadi merupakan bagian dari pengembangan moral kerja dan pengembangan moral kerja merupakan bagian dari pengembangan organisasi yang berintikan hubungan antara personal. Hubungan personal yang diinginkan dalam lembaga pendidikan ialah hubungan kerukunan, gotong royong, saling menghormati dan bekerja sama.
Terciptanya iklim yang kondusif ini akan meningkatkan etos kerja para personil sekolah yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil yang akan diperoleh. Walaupun keterbatasan yang ada dilingkungan sekitarnya begitu banyak personil sekolah akan selalu memiliki solusi yang tepat untuk mengatasinya yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil yang akan dicapai. Personel sekolah merupakan penggerak suatu organisasi sekolah sehingga peranan personil sekolah sangat urgen untuk mengarahkan organisasi untuk mencapai tujuannya. Oleh karena itu manajemen personalia yang matang sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang ada di madrasah.

BAB III

METODE PENELITIAN

A.    Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan paradigma deskriptif-kualitatif. Menurut Moleong (2004:111) mendefinisikan “metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa data-data tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati.
Menurut mereka pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistic (utuh). Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi kedalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandang sebagai bagian dari kebutuhan (Moleong, 2004:4).
Karakteristik penelitian kualitatif antara lain berlangsung pada latar yang alamiah, peneliti merupakan instrument atau alat pengumpulan data utama, dan analisis yang dilakukan dengan mendeskripsikan segala sesuatu yang terjadi pada latar penelitian dengan selengkapnya. Oleh karena itu data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu semua yang dikumpulkan kemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti.
35
Menurut Nazir (1988:63) penelitian yang menggunakan metode deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.
Penelitian ini bertujuan menggambarkan realitas empiris sesuai dengan fenomena yang terjadi secara rinci dan tuntas serta untuk mengungkapkan gejala secara holistik kontekstual melalui pengumpulan data dari latar yang alami dengan peneliti sebagai instrumen kunci.
Adapun jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian studi kasus. Menurut Arikunto (2002:14) penelitian studi kasus adalah suatu penekitian yang dilakukan secara intensif, terinci, dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga, atau gejala tertentu.
Studi kasus merupakan penelitian tentang status subyek penelitian yang berkenaan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Peneliti ingin mempelajari secara spesifik mengenai latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit-unit sosial yang menjadi subyek dari focus penelitian. Lebih lanjut penelitian ini bermaksud untuk melukiskan secara lengkap dan akurat tentang fenomena sosial, sehingga peneliti menggunakan desain penelitian kualitatif.
B.     Kehadiran Peneliti
Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrumen itu sendiri. Kehadiran dan keikutsertaan peneliti tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan pada latar penelitian, sebab dalam penelitian ini seorang peneliti bertindak sebagai pengamat atas segala gejala-gejala yang diteliti.
Kehadiran peneliti disini sebagai pengamat fenomena yang terjadi dalam lapangan kurang lebih 30 hari. Peneliti tidak terlibat langsung dengan proses yang terjadi dalam kondisi dilapangan.
C.    Lokasi Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran dan informasi yang lebih jelas lengkap mengenai peranan manajemen personalia (sebagai bagian dari manajemen prndidikan) dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan saronggi. Lokasi ini memungkinkan dan mudah bagi peneliti untuk melakukan penelitian dan observasi. Oleh karena itu peneliti memilih MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi sebagai objek penelitian yang berlokasi di dusun Solot Desa Muangan Saronggi.
D.    Sumber Data
Menurut Moleong (2004:113) sumber data dalam penelitian kualitatif ada dua macam yaitu sumber data primer dan sumber data skunder.
1.      Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Dalam penelitian ini, sumber data primer adalah kepala sekolah dan wakilnya, seluruh guru dan staf administratif MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi.
2.      Sedangkan sumber data skunder adalah sumber data yang tidak langsung, misalnya lewat orang lain atau dokumen. Sumber data skunder adalah data tertulis dari lembaga dan hasil observasi peneliti.
E.     Prosedur Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan, peneliti dalam hal ini menggunakan metode sebagai berikut :
1.      Metode Observasi
Metode observasi merupakan suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang standar (Arikunto, 2002:225)
Observasi ini digunakan untuk mengetahui keadaan umum MI An-Nidaul Islamiyah  Muangan Saronggi dan bagaimana implementasi manajemen personalia yang diterapkan di lembaga tersebut.
Dalam pengumpulan data melalui observasi ini instrumen yang digunakan oleh peneliti adalah pedoman observasi yang berisi daftar jenis kegiatan atau keadaan yang ingin diteliti dipertegas oleh  Arikunto (2002:225) bahwa metode ini merupakan observasi sistematis yaitu observasi yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrument pengamat.
Metode ini merupakan cara pengumpulan data yang dilaksanakan melalui pengamatan yaitu melihat langsung kondisi lapangan.metode penelitian ini digunakan untuk menggali situasi secara umum di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi seperti lingkungan sekolah, sarana dan pra sarana, fasilitas belajar mengajar dan kegiatan belajar mengajar serta suasana kerja kepegawaian, tenaga edukatif serta tenaga administratif dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
2.      Metode Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk memperoleh tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dangan menggunakan alat atau panduan wawancara (Nasir, 1988:234).
Menurut Gublin dan Licoln yang dikutip oleh Moleong (2004:160-167) wawancara dibedakan dalam beberapa macam diantaranya :
a.       Wawancara oleh tim panel
Wawancara oleh tim berarti wawancara yang dilakukan tidak hanya oleh satu orang, tetapi oleh dua orang atau lebih terhadap seseorang yang diwawancarai.
b.      Wawancara tertutup dan terbuka
Pada wawancara tertutup biasanya yang diwawancarai tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa mereka diwawancarai. Sedangkan wawancara terbuka subyeknya tahu bahwa mereka sedang diwawancaraidam mengetahui pula apa maksud mereka diwawancarai.


c.       Wawancara riwayat secara lisan
Wawancara tehadap orang-orang yang pernah membuat sejarah atau yang telah membuat karya ilmiyah, sosial dan lain sebagainya.
d.      Wawancara terstruktur dan tidak terstuktur
Wawancara terstruktur adalah pewawancara menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, jenis wawancara ini bertujuan untuk mencari jawaban terhadap hipotesis. Sedangkan wawancara tidak terstuktur adalah pertanyaan yang diajukan disusun terlebih dahulu dengan kata lain sesuai dengan keadaan subyek.
Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terbuka dan wawancara tidak terstruktur. Alasannya digunakan wawancara jenis ini adalah pada wawancara ini memiliki kelebihan-kelebihan diantaranya yaitu dapat dilakukan secara personal yang memungkinkan sekali diperoleh informan yang sebanyak-banyaknya. Secara psikologis wawancara ini lebih bersifat obrolan dan bebas sehingga tidak menjenuhkan informan akan tetapi mengenai pokok permasalahan yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Wawancara yang peneliti gunakan bertujuan untuk mengetahui secara mendetail tentang pokok permasalahan mengenai peranan manajemen personalia dalam meningkatkan mutu pendidikan yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi yang peneliti ambil sebagai tema dalam penulisan proposal skripsi ini. Sehingga didapatkan data-data yang valid dari nara sumber obyek penelitian.
3.      Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan-catatan, transkrip, buku, surat kabar, prasati, notulen rapat, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002:206).
Menurut Moleong (2004:161-163) dokumentasi dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu, dokumen resmi dan dokumen pribadi. Dokumen resmi merupakan dokumen yang berasal dari suatu lembaga atau organisasi. Dokumen resmi terbagi atas internal (berupa memo, pengumuman, instruksi, aturan suatu lembaga masyarakat tetapi digunakan dikalangan sendiri) dan dokumen eksternal (yang berupa majalah, buletin, pernyataan dan berita yang disiarkan kepada media masa). Dokumen pribadi merupakan catatan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman dan kepercayaan. Dokumen pribadi dapat berupa buku harian, surat pribadi dan autobiografi.
Metode dokumentasi ini penulis pergunakan berdasarkan dokumen resmi dan bentuk dokumen internal yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi. Penulis tidak menggunakan dokumen pribadi karena peneliti tidak menemukan data dokumen tersebut. Metode dokumentasi ini penulis paparkan untuk mengetahui data dan temuan peneliti yang berisi tentang latar belakang obyek penelitian ini meliputi sejarah singkat berdiri dan berkembangnya MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi, kondisi MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi, kondisi siswa MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi, kondisi guru dan karyawan MI An-Nidaul Islamiyah.
F.     Analisis Data
Setelah semua data terkumpul, maka langkah berikutnya adalah menganalisis data penelitian. Analisis data penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca dalam memahami hasil dari penelitian yang sudah berlangsung.
Menurut Patton yang dikutip oleh Moleong (2004:280) analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan suatu uraian dasar. Sedangkan menurut Bogdan dan Taylor, analisis data adalah proses yang merinci usaha-usaha secara formal untuk menentukan tema dan merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan kepada tema dan ide itu.
Analisis data merupakan proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerjaanalisis data.
Setelah data dari laporan terkumpul dengan menggunakan beberapa metode diatas, meka peneliti mengelola dan menganalisa data tersebut dengan menggunakan analisis diskriptif-kualitatif. Analisis deskriptif-kualitatif menurut Moleong (2004:104) adalah analisis data yang dilakukan dengan menata dan menelaah secara sistematis semua data yang diperoleh.
Peneliti menganalisis data hasil penelitian dengan analisis deskriptif-kualitatif yang merupakan suatu teknis yang menggambarkan, menguraikan dan menginterpretasikan arti data-data yang terkumpul dengan memberi perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti. Peneliti menggunakan teknis analisis dataini dengan menata dan menelaah secara sistematis semua data yang diperoleh. Sehingga diperoleh gambaran secara menyeluruh tentang obyek penelitian berdasarkan fokus penelitian yang penulis ambil.
G.    Pengecekan Keabsahan
Setelah data terkumpul dan dianalisis, maka diperlukan pengecekan keabsahan data. Pengecekan keabsahan data ini bertujuan untuk mengetahui keabsahan data dari penelitian. Untuk menentukan keabsahan data dari hasil penelitian tersebut diperlukan teknik pemeriksaan data.
Pemeriksaan data didasarkan atas kreteria tertentu. Kreteria itu sendiri terdiri atas derajat kepercayaan (kredibilitas), keteralihan, kebergantungan dan kepastian. Masing-masing kreteria tersebut menggunakan teknik pemeriksaan tersendiri. Kreteria derajat kepercayaan pemeriksaan datanya dilakukan dengan teknik perpanjangan keikutsertaan, ketekunan, pengamatan, trianggulasi, pengecekan atau diskusi sejawat, kecukupan referensial, kajian kasus negatif dan pengecekan anggota.
Adapun teknik pemeriksaan data yang ada pada penelitian ini menggunakan kreteria derajat kepercayaan (kredibilatas). Penelitian ini menggunakan pemeriksaan data yang didasarkan pada derajat kepercayaan yang pemeriksaan datanya menggunakan metode triangulasi.
Menutrut Moleong (2004:157) triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk kepentingan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang banyak dipakai adalah pemeriksaan melalui sumber lain.
Hal ini berarti peneliti hendaknya mengadakan pengamatan rinci dan teliti secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol. Kemudian menelaah kembali secara rinci sampai pada suatu titik kesimpulan sehingga pada pemeriksaan awal tampak salah satu atau seluruh faktor yang telah diteliti.
H.    Tahapan Penelitian
Proses penelitian ini peneliti laksanakan sejak awal penyerahan surat penelitian. Penelitian ini berlangsung dalam jangka waktu kurang lebih satu bulan dan melalui tiga tahap-tahap penelitian, yaitu sebagai berikut :


1.      Tahap Pra Lapangan
Tahap pra lapangan merupakan tahap awal dalam suatu penelitian kualitatif. Pada tahapan ini kegiatan yang dilakukan antara lain :
a.       Menyusun rancangan penelitian.
b.      Memilih lapangan penelitian dengan pertimbangan untuk disesuaikan dengan fokus pembahasan yang diambil.
c.       Mengurus perijinan secara formal.
d.      Melakukan penjajahan lapangan untuk menyesuaikan dengan MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi selaku obyek penelitian.
e.       Menyiapkan perlengkapan penelitian.
2.      Tahapan Pekerjaan Lapangan
Tahap pekerjaan lapangan merupakan inti kegiatan dalam proses penelitian. Dalam tahap pekerjaan lapangan ini meliputi beberapa kegiatan, yaitu :
a.       Mengadakan observasi secara langsung.
b.      Memasuki lapangan dengan mengamati berbagai fenomena yang terjadi.
c.       Mengumpulkan data dari berbagai sumber tertulis dan dengan mengamati berbagai fenomena yang terjadi serta wawancara dengan berbagai pihak yang terlibat dalam fokus penelitian ini serta mencari data selengkap mungkin.
3.      Penyusunan laporan penelitian dan analisis data berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh.
BAB IV
LAPORAN PENELITIAN

A.    Paparan Data dan Temuan Penelitian
Dari penelitian yang telah penulis lakukan di MI An-nidaul Islamiyah Muangan Saronggi dapat disajikan latar belakang subyek penelitian. Latar belakang obyek penelitian ini meliputi sejarah berdirinya MI An-nidaul Islamiyah Muangan Saronggi, visi dan misi, keadaan personal, keadaan siswa, serta keadaan sarana dan prasarana MI An-nidaul Islamiyah Muangan Saronggi. Kesemuanya akan dipaparkan berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi dari obyek penelitian yaitu MI An-nidaul Islamiyah Muangan Saronggi, sebagai berikut :
1.      Sejarah Berdirinya MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi
Madrasah Ibtidaiyah An-Nidaul Islamiyah berdiri pada tahun 1985 atas dasar kemauan pendiri KH.Hanafi Hal tersebut dilatar belakangi oleh eksistensi lembaga pendidikan yang kalau dilihat perkembangannya dari tahun ke tahun semakin Nampak baik dari aspek kualitas maupun kuantitas.
46
Dalam perjalanannya MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep sudah dapat melangkah dengan pasti walaupun dalam perjalanannya ini masih ada hambatan-hambatan kecil yang menghadang dalam setiap langkahnya. Namun Alhamdulillah sampai saat ini penulis meneliti MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep tersebut sudah mengalami peningkatan.
Berdasarkan hasil dokumen tentang sejarah berdirinya MI An-Nidaul Islamiyah Muangan saronggi Sumenep yang peneliti peroleh awal kepemimpinan MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep dipegang oleh KH.Hanafi yaitu pada tahun 1985. Lokasi MI An-Nidaiyah sangat strategis yaitu terletak di pinggi jalan raya. Pada tahun 2010-2011 MI An-Nidaul Islamiyah mendapatkan bantuan dana dari pemerintah dengan direalisasikan dalam wujud pembangunan fisik gedung Madrasah sejumlah tiga lokal yang semuanya dijadikan ruang kelas berlantai dua.
2.      Visi dan Misi MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi
Sebagai institusi pendidikan, tranformasi menuju sekolah bermutu diawali dengan mengadopsi dedikasi bersama terhadap mutu oleh dewan sekolah, staf, siswa, guru, dan komunitas. Proses diawali dengan mengembangkan visi dan misi dari sekolah itu sendiri. Adapun visi dan misi MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi berdasarkan data dokumen yang ada di Madrasah adalah sebagai berikut :
Visi :
Unggul dalam prestasi, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Indikator Visi :
-       Unggul dalam perolehan UAS
-       Unggul dalam persaingan melanjutkan pendidikan
-       Unggul dalam siswa teladan
-       Unggul dalam olah raga
-       Unggul dalam lomba kesenian
-       Unggul dalam lomba keterampilan
-       Unggul dalam disiplin
-       Unggul dalam kegiatan keagamaan
-       Unggul dalam budi pekerti
-       Unggul dalam kepedulian sosial
Misi :
1.      Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif
2.      Menumbuhkan semangat keunggulan serta intensif kepada seluruh warga sekolah
3.      Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan secara optimal
4.      Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran yang diikuti dan juga budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak
5.      Meningkatkan mutu layanan kepada pelanggan sekolah
6.      Menerapkan manajeman partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan komite sekolah.
3.      Struktur Organisasi MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi
Dalam suatu lembaga organisasi pendidikan, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta, keberadaan struktur sangan diperlukan. Hal ini disebabkan oleh keberadaan struktur organisasi berpengaruh kualitas lembaga tersebut. Dengan adanya struktur organisasi tujuan pendidikan akan terorganisir dengan efektif dan efisien, selain itu hubungan masing-masing bagian atau personal akan terjalin secara harmonis. Demikian di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan ini, memerlukan struktur organisasi yang baik supaya dapat menunjang keberhasilan pelaksanaan suatu pendidikan. Adapaun struktur organisasi di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep adalah sebagai mana terlampir :
4.      Keadaan Personal MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi
Sampai penelitian ini berakhir jumlah pegawai di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep berjumlah 17 orang.
Tabel 4.1 : Data Personil Sekolah
No
Nama
Jabatan
1
Agus Mulyadi, S.Pd.I
Ketua Yayasan
2
Hariyanto
Komite Sekolah
3
Syafiudin, S.Pd.I
Kepala Sekolah
4
Khatimah
Guru / Wali Kelas
5
Fausi, S.Pd.I
Guru / Waka Kurikulum
6
Liffiyawati, S.Pd.I
Guru / Waka Kesiswaan
7
M. Aksam, S.Pd.I
Guru / Ka. Bag. TU
8
Erfaini, A.Ma
Guru / Wali Kelas
9
Hasanah, S.Pd, SD
Guru / Wali Kelas
10
Sri Murtiningsih, A.Ma
Guru / Wali Kelas
11
Taufik Abdillah, S.Pd.I
Guru / Waka Humas
12
Ainur Rasyid
Guru / Wali Kelas
13
Lilik Sofiawati, S.Pd
Guru / Wali Kelas
14
Moh Sofyan
Guru
15
Mahfud, S.Pd.I
Guru
16
Puji Astutik
Guru
17
Supriyadi
Guru
Sumber Data : MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Tahun Pelajaran 2013/2014



5.      Keadaan Siswa MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi
Siswa merupakan komponen pokok dalam pendidikan. Siswa merupakan obyek sekaligus subyek dalam pendidikan. Adapun jumlah siswa/siswi MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep pada tahun pelajaran 2013/2014 sebagai berikut :
Tabel 4.2 : Data Siswa Tahun 2013/2014
No
Kelas
Banyaknya
Jumlah Siswa
Jumlah
L
P
1
I
19
9
10
19
2
II
11
5
6
11
3
III
18
9
9
18
4
IV
16
9
7
16
5
V
11
4
7
11
6
VI
19
7
12
19
Jumlah
43
51
94
Sumber Data : MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep

6.      Keadaan Sarana dan Prasarana MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi
Keterbatasan dana menyebabkan sarana dan prasarana yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep ini masih sangat terbatas dan bahkan bisa dikatakan belum mencukupi untuk memperlancar proses belajar mengajar, walaupun jumlahnya masih terbatas. Adapun keadaan sarana prasarana di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep sebagai berikut :


Tabel 4.3 : Sarana dan Prasarana MI An-Nidaul Islamiyah
No
Jenis Ruangan
Jumlah Lokal
1
Ruang Kelas
6
2
Ruang Tamu
1
3
Ruang Kepala Sekolah
1
4
Ruang Guru
1
5
Ruang Tata Usaha
1
6
Ruang Koperasi
1
7
Perpustakaan Mini
1
8
Kamar Mandi / WC
4
Sumber Data : MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep

B.      Pembahasan  
1.      Pelaksanaan Manafemen Personalia di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep.
Pelaksanaan manajemen tenaga kependadakan (manajemen personalia) sedikitnya mencakup tujuh kegiatan utama, yaitu : (1) perencanaan pegawai, (2) pengadaan pegawai, (3) pembinaan dan pengembangan pegawai, (4) promosi dan mutasi, (5) pemberhentian pegawai, (6) kompensasi, (7) penilaian pegawai. Semua itu perlu dilakukan dengan baik dan benar agar apa yang diharapkan tercapai.
Perencanaan pegawai merupakan kegiatan untuk menentukan kebutuhan pegawai, baik secara kuantitatif maupun kualitatif untuk sekarang dan masa depan. Penyusunan rencana personalia yang baik dan tepat memerlukan informasi yang lengkap dan jelas tentang pekerjaan atau tugas yang harus dilakukandalam organisasi. Karena itu sebelum menyusun rencana, perlu dilakukan analisis pekerjaan (job analisis) dan analisis jabatan untuk memperoleh diskripsi pekerjaan (gambaran tentang tugas-tugasdan pekerjaan yang harus dilaksanakan). Informasi ini sangat membantu dalam menentukan jumlah pegawai yang diperlukan, dan juga untuk menghasilkan spesifikasi pekerjaan (job specification).
Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan terhadap Bapak Syafiudin, S.Pd.I selaku Kepala Madrasah bahwa perencanaan personalia di MI An-Nidaul Islamiah Muangan Saronggi dilaksanakan sebagai berikut :
‘Proses perencanaan pengangkatan pegawai perlu ada pertimbangan-pertimbangan. Adapun pertimbangan-pertimbangan kami antara lain adalah masa kerja. Bagi pegawai yang masa kerjanya relative lama itu yang menjadi prioritas kami, pertimbangan kami dengan masa kerja yang cukup lama mereka akan professional dan menguasai terhadap bidang tugas yang diemban. Namun demikian kami juga melakukan evaluasi, jadi masa kerja yang cukup lama bukan menjadi prioritas utama, jadi tergantung pada profesionalitas dan kualitas personal. Jadi walaupun masa kerja cukup lama tapi tidak memenuhi syarat bukan lagi prioritas, sebaliknya masa kerjanya masih muda tapi kerjanya bagus maka profesionalismenya itulah yang kami pilih. Tapi tetap meskipun menjadi hak Kepala Sekolah harus melalui berbagai pertimbangan antara lain dengan Komite Sekolah”. (Hasil wawancara dengan Bapak Syafiudin, S.Pd.I Kepala Sekolah MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari Selasa Tanggal 01 Oktober 2013 Jam 09.00 Wib)

                                Hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa dalam perencanaan pegawai juga harus mempertimbangkan profesionalitas dan dana yang mencukupi. Selanjutnya Beliau menegaskan bahwa :
“tentang menambah pegawai atau tidak atau mengoptimalkan tenaga yang sudah ada itu tergantung pada anggaran yang sudah ada, kerena madrasah ini terbatas sekali. Biaya operasionalnya itu didapatkan dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sehingga kami tidak ada dana yang diperoleh dari wali murid kecuali hanya untuk pembelian buku-buku untuk kepentingan anak itu sendiri, itupun tidak semua. Sedangkan untuk mengatasi kekurangan tenaga tentu saja kami pertimbangkan kalau ada pelamar dan sesuai dengan kebutuhan sekolah itu diambil, jika tidak ada kami melalui urusan humas, kami akan berkoordinasi barangkali ada tenaga. Tentu saja kebutuhan-kebutuhan tenaga ini yang akan kami rekrut berdasarkan koordinasi juga dengan komite sekolah”. (Hasil wawancara dengan Bapak Syafiudin, S.Pd.I Kepala Sekolah MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari Selasa Tanggal 01 Oktober 2013 Jam 09.00 Wib)

Setelah diperoleh dan ditentukan calon pegawai yang akan diterima, kegiatan selanjutnya adalah mengorganisasikan pegawai tersebut dalam satuan kerja. Koordinasi yang matang dari sejumlah personal akan melancarkan program kegiatan yang akan berlangsung. Seperti yang dikemukakan oleh Bapak Syafiudin, S.Pd.I selaku Kepala Sekolah MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep sebagai berikut :
“Pengorganisasian pegawai tentu saja sesuai dengan job description yang telah kami bagia setiap awal tahun. Pengorganisasian kegiatan yang tidak bisa kami kerjakan sendiri maka akan kami serahkan kepada tenaga-tenaga yang sudah kami percaya tadid, misalnya kegiatan penerimaan siswa baru maka kami limpahkan kepada wakil kepala bagian kesiswaan yang dikoordinasikan dengan wakil kepala bagian hubungan masyarakat. Kegiatan itu kami serahkan mulai dari proses perencanaan sampai kegiatan selesai. Kegiatan keagamaan kami limpahkan kepada wakin kepala bagian humas sedangkan kegiatan yang terkait dengan proses pendidikan kami limpahkan kepada wakil kepala bagian kurikulum. Sedangkan untuk kelengkapan sarana prasarana kami serahkan kepada wakil kepala bagian sarana dan prasarana. Tentu saja semua keputusan akan kami musyawarahkan bersama-sama terhadap kegiatan yang akan kami laksanakan, jadi selalu ada koordinasi sebelum diputuskan”. (Hasil wawancara dengan Bapak Syafiudin, S.Pd.I Kepala Sekolah MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari Selasa Tanggal 01 Oktober 2013 Jam 09.00 Wib)

Keterangan dari Bapak Syafiudin, S.Pd.I tersebut juga ditegaskan oleh Liffiyawati, S.Pd.I selaku wakil kepala bagian Kesiswaan yang menyebutkan bahwa :
“Proses pengorganisasian program kerja kita mengadakan rapat dinas dengan kepala, misalnya dalam pengorganisasian program kerja penerimaan siswa baru ini kita musyawarahkan bersama-sama. Sekecil apapun program kerja pasti membentuk kepanitiaan. Orang yang bekerja itu sudah tahu bagiannya masing-masing, untuk membuat kepanitiaan kita buat planning dulu. Hal ini untuk menghindari pelemparan wewenang karena merasa tidak diberitahukan sebelumnya. Intinya dari kepanitiaan yang kita bentuk dalam setiap kegiatan sangat membantu kami dan merupakan unsur utama untuk mencapai hasil yang maksimal dari kegiatan tersebut”. (Hasil wawancara dengan Ibu Liffiyawati, S.Pd.I  wakil kepala bagian Kesiswaan MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari SelasaTanggal 01 Oktober 2013 Jam 11.00 Wib)  

Pengkoordinasian pegawai yang dilakukan setiap kegiatan ini juga ditegaskan oleh Fausi, S.Pd.I selaku wakil kepala bagian Kurikulum yang menjelaskan bahwa :
“Kami dalam membentuk suatu kepanitiaan baik itu panitia apa saja, akan selalu kita koordinasikan atau kita musyawarahkan. Kita ketahui bahwa tidak semua guru dapat hadir setiap hari di madrasah ini, oleh karena itu kepala sekolah selalu mengadakan rapat koordinasi dau minggu sekali atau sebulan sekali”. (Hasil wawancara dengan Bapak Fausi, S.Pd.I  wakil kepala bagian Kurikulm MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari Rabu Tanggal 02 Oktober 2013 Jam 08.30 Wib) 

Ketiga keterangan diatas dapat kita ketahui bahwa koordinasi yang matang dari seluruh persnonal akan melancarkan program kegiatan yang akan berlangsung. Pengorganisasian pegawai disesuaikan dengan job description yang telah dibagi setiap awal tahun. Pengorganisasian kegiatan yang tidak dilakukan oleh kepala sekolah sendiri akan diserahkan kepada tenaga-tenaga yang sudah dipercaya atau wakil kepala sekolah.
Pelaksanaan manajemen personalia yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep ini selalu dimusyawarahkan bersama mulai dari perencanaan samapai pada evaluasinya. Perencanaan pegawai itu sendiri juga harus disesuaikan dengan kemampuan financial yang memadai. Selain itu kepala madrasah juga berperan aktif dalam memonitor kinerja setiap personal sekolah dalam berbagai program sekecil apapun.
2.      Peranan Manajemen Personalia dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep
Personal sekolah seperti guru dan staf karyawan tentu saja membutuhkan motivasi untuk meningkatkan kinerjanya. Adapaun usaha untuk meningkatkan mutu kinerja guru dan staf karyawan seperti yang dikemukakan oleh kepala sekolah MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep:
“Peningkatan mutu kinerja personal sekolah antara lain ibu/bapak guru mengefektifkan kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang diadakan sebulan sekali. Sedangkan kami untuk mendapatkan informasi mengenai mutu pendidikan kami selalu berkoordinasi dengan kepala-kepala sekolah kabupaten sumenep setiap bulan. Kelompok Kerja Madrasah (KKM) juga dilaksanakan sebulan sekali, untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang lain kami tingkatkan melalui penataran dan workshop dalam rangka mengikuti perkembangan terbaru dalam pendidikan, yang kemudian dari hasil mengikuti penataran dan workshop tersebut diminta untuk diajarkan kepada teman-teman yang lain”. (Hasil wawancara dengan Bapak Syafiudin, S.Pd.I Kepala Sekolah MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari Selasa Tanggal 01 Oktober 2013 Jam 09.00 Wib)

Dengan menigkatkan kinerja personal sekolah secara bekesinambungan dan evaluasi pada setiap jenis kegiatan personal kualitas kinerjanya akan teridentifikasi dengan baik untuk memonitor kualitas atau mutu pendidikan yang ada di madrasah ini. Mutu pendidikan juga harus terus ditingkatkan dari waktu ke waktu begitu juga dengan mutu pendidikan yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep ini. Adapun mutu pendidikan yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep menurut Kepala Sekolah MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep adalah sebagai berikut :
“Mutu pendidikan yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep ini sudah berkembang dengan baik dari waktu ke waktu. Usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan yang jelas terutama adalah kedisiplinannya, baik siswa maupun guru. Kedua kita coba berikan jam tambahan untuk kelas enam terutama dari materi Ujian Negara (UN) dan buku-buku penunjang”. (Hasil wawancara dengan Bapak Syafiudin, S.Pd.I Kepala Sekolah MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari Selasa Tanggal 01 Oktober 2013 Jam 09.00 Wib)

Keterangan tersebut juga dipertegas oleh wakil kepala bagian Kesiswaan yaitu sebagai berikut :
“Mutu madrasah seperti yang dapat anda lihat sudah mulai menampakkan perkembangan, baik dari segi fisik maupun non fisik. Menurut saya pendidikan yang bermutu bukan sekedar target lulus atau naik kelas melainkan diluar target itu kita harus ingat proses. Proses belajar mengajar untuk mencapai target itu sendiri. Sehingga anak-anak bisa menguasai materi yang diberikakan, kemudian anak-anak bisa menghayati materi yang kita berikan. Sebagai waka kesiswaan usaha saya untuk meningkatkan prestasi siswa dengan bekerjasama dengan waka kurikulum, humas, dan sarana prasarana. Disini kita menekankan kepada Bapak dan Ibu guru bahwa masuk di madrasah ini untuk berusaha agar siswa lebih berniat untuk belajar”. (Hasil wawancara dengan Ibu Liffiyawati, S.Pd.I  wakil kepala bagian Kesiswaan MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari SelasaTanggal 01 Oktober 2013 Jam 11.00 Wib)


Jika dilihat dari beberapa keterangan yang telah dikemukakan diatas, peranan manajemen personalia dalam meningkatkan mutu pendidikan sebagai kunci utama keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Personalia dituntut untuk mengetahui potensi yang ada disekitar mereka dan memanfaatkannya dengan efektif dan efisien untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah.
Personil sekolah merupakan pelaku atau subyek pengembang mutu pendidikan ditengah perkembangan yang sangat pesat tiap waktunya. Personil sekolah akan selalu dihadapkan pada kendala dan masalah-masalah yang terus terjadi. Setiap masalah perlu segera dicarikan jalan keluar dan pemecahannyaagar tidak berlarut-larut. Untuk kepentingan tersebut perlu adanya kegiatan pertemuan.
Peningkatan pengetahuan dan kemampuan professional sering harus lilaksanakan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Personil sekolah mengemban tugas untuk menjadi fasilitator bagi siswa untuk hidup bermasyarakat dan mengembangkan dirinya kelak.
Oleh karena itu untuk melaksanakan tugastersebut dengan baik maka personil sekolah harus memiliki kepribadian tahan uji dalam meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu personal sekolah juga diharapkan mempunyai hubungan yang harmonis antara personal agar setiap program sekecil apapun untuk meningkatkan mutu pendidikan dapat terealisasikan dengan maksimal.
3.      Faktor Penghambat dan Pendukung Manajemen Personalia Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep
Walaupun pelaksanaan manajemen sudah diupayakan sedemikian rupa dalam setiap program kegiatan, namun pada kenyataannya terdapat faktor-faktor pendukung maupun penghambat dalam pencapaian mutu pendidikan yang diharapkan. Adapun menurut hasil wawancara dengan Kepala Sekolah faktor pendukung yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi adalah sebagai berikut :
“Faktor pendukung adalah loyalitas personil pada MI An-Nidaul Islamiyah yaitu bagaimana seseorang mempunyai rasa memiliki pada MI An-Nidaul Islamiyah ini. Kami memanfaatkan kemampuan mereka dan kita tempatkan sesuai dengan kemampuan mereka. Manajemen itu tidak akan berjalan apabila tidak ada komunikasi antar personal yaitu hubungan antara atasan dengan bawahannya sesuai dengan kemampuan mereka.” (Hasil wawancara dengan Bapak Syafiudin, S.Pd.I Kepala Sekolah MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari Selasa Tanggal 01 Oktober 2013 Jam 09.00 Wib)

Menurut PKM Kesiswaan factor pendukung peningkatan mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi adlah sebagai berikut :
“Faktor pendukung dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah tingkat kekompakan dari semua komponen yang ada baik dari kepala sekolah, TU, dewan guru juga siswa. Saya yakin kalau tidak ada kekompakan sekolah itu menjadi tidak karuan. Artinya bahwa dengan tingkat kekompakan yang tinggi akan membuat sekolah itu menjadi lebih baik. Selama beberapa bulan ini kami mengadakan pertemuan dengan wali murid untuk membicarakan masalah perkembangan pendidikan terhadap peserta didik sehingga melakukan pengawasan khusus terhadap putra-putri mereka ketika berada dirumah masing-masing.” (Hasil wawancara dengan Ibu Liffiyawati, S.Pd.I  wakil kepala bagian Kesiswaan MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari SelasaTanggal 01 Oktober 2013 Jam 11.00 Wib).

Adapun faktor penghambat yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi  ini menurut kepala madrasah adalah sebagai berikut :
“Jumlah tenaga pendidikan masih terbatas sekali. Namun demikian keterbatasan pegawai ini kami kelola dengan sebaik-baiknya. Kami bagi sesuai dengan job descriptionnya masing-masing. Pembagian tugas itu kami laksanakan setiap awal tahun menyesuaikan dengan beban tugas yang akan dilaksanakan olehsekolah ini secara umum. Bila dilihat jumlah pegawai di madrasah ini sangat terbatas dan kurang sekali sehingga perencanaannya disesuaikan juga dengan anggaran yang ada di sekolah ini. Tentang menambah atau tidak atau mengoptimalkan tenaga yang sudah ada itu tergantung pada anggaran yang sudah ada, karena anggaran madrasah ini terbatas sekali.” (Hasil wawancara dengan Bapak Syafiudin, S.Pd.I Kepala Sekolah MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari Selasa Tanggal 01 Oktober 2013 Jam 09.00 Wib)

Keterbatasan pegawai juga dapat mempengaruhi kinerja waka kurikulum. Hal tersebut terlihat dari hasil wawancara dengan PKM Kurikulum, yaitu sebagai berikut :
“Pelaksanan manajemen tidak ada hambatan berarti dan bisa dimusyawarahkan. Misalnya saya harus mengatur jadwal. Disini ada guru honorer yang mengajar lebih dari satu sekolah. Misalnya sekolah ini hari ini dan di sekolah lain juga dipatok hari ini. Kalau saya mengatur jadwal, ya saya sesuaikan anda bisanya hari apa. Salah satu kendalanya ya seperti itu, yaitu banyak guru honorer yang banyak mengajar di sekolahan yang lain.” (Hasil wawancara dengan Bapak Fausi, S.Pd.I  wakil kepala bagian Kurikulm MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari Rabu Tanggal 02 Oktober 2013 Jam 08.30 Wib)

Adapun menurut PKM Kesiswaan faktor penghambat yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi adalah sebagai berikut :
“Kita rasakan dalam menjalankan tugas pasti ada kendala. Pertama, jumlah personalia yang sangat terbatas. Kedua, tempat tinggal kami jauh-jauh. Meskipun begitu apapun yang terjadi dan apapun yang kita hadapi kita mempunyai komitmen bersama, sesuai yang ditekankan oleh kepala sekolah bahwa kita disini harus memberikan dan pengabdiyan yang kita lakukan untuk madrasah ini. Jumlah personil sekolah yang terbatas mengakibatkan penempatan job description ganda. Seperti waka sarana dan prasarana da BP karena mutasi pengangkatan kepala. Kita menekankan kepada yang melaksanakan dobel jobcuntuk dibantu oleh personal lain agar kinerjanya dapat maksimal. Formalitas dalam pelaksanaan subnya dari teman-teman kita rekrut bersama.” (Hasil wawancara dengan Ibu Liffiyawati, S.Pd.I  wakil kepala bagian Kesiswaan MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep Hari SelasaTanggal 01 Oktober 2013 Jam 11.00 Wib).

Dari hasil wawancara diatas, hambatan yang dihadapi di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi adalah dana yang minim dengan kondisi sosial ekonomi peserta didik yang rendah sehingga pihak madrasah tidak bisa membebankan biaya pendidikan yang besar kepada siswa. Adapun biaya oprasionalnya didapatkan dari dana BOS saja sehingga tidak ada dana yang diperoleh dari wali murid kecuali hanya untuk pembelian buku-buku untuk kepentingan anak itu sendiri, itupun tidak semua, rata siswa yang masuk ke MI An-Nidaul Islamiyah Muangan adalah siswa lulusan TK/RA yang masih minim pengetahuan agamanya sehingga dibutuhkan pembelajaran yang baik untuk memenuhi tujuan pendidikan yang ditetapkan, dan keterbatasan tenaga pengajar sehingga ada beberapa guru yang ganda untuk memenuhi kebutuhan kurikulum.
Akan tetapi dengan loyalitas tinggi, komitmen, dan team-work yang kompak serta komunikasi yang tergabung dengan baik segala hambatan yang dihadapi dapat diatasi dengan bekerja sama dengan personal lain, meskipun masih terus diperbaiki lagi. Selain itu dengan semangat perjuangan yang tinggi madrasah ini akan mampu bertahan dan bersaing dengan madrasah lain yang ada di kecamatan Saronggi.
Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman SDN Muangan ini peminatnya kurang. Alasannya mayoritas warga disekitar lembaga disini lebih patuh kepada Bapak Kiyai  sehingga semua anak mereka didorong masuk ke madrasah yang berbasis agama dengan orientasi mereka dilanjut ke pondok. Pada akhirnya mutu pendidikan yang ada di madrasah ini meningkat drastis.


BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari semua pemaparan dan penelitian yang telah peneliti lakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Pelaksanaan managemen personalia di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep ini meliputi enam kegiatan utama, yaitu : perencanaan pegawai, pengadaan pegawai, pembinaan dan pengembangan pegawai, promosi dan mutasi, kompensasi dan penilaian hasil kerja pegawai.
2.      Peranan manajemen personalia dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep ini ditandai dengan loyalitas, kekompakan, dan koordinasi antara personal sekolah yaitu tenaga administrative (staf atau karyawan) dan tenaga edukatif (guru) yang matang.
3.      Faktor penghambat yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah Muangan Saronggi Sumenep adalah dana yang minim dengan kondisi sosial ekonomi peserta didik yang rendah sehingga pihak madrasah tidak bisa membebankan biaya pendidikan yang besar kepada siswa. Sedangkan factor pendukung yang ada di MI An-Nidaul Islamiyah adalah loyalitas personil pada MI An-Nidaul Islamiyah yaitu bagaimana seseorang mempunyai rasa memiliki terhadap MI An-Nidaul Islamiyah ini.
61
 


B.     Saran-saran
Jika dilihat dari hasil penelitian maka hendaknya skripsi ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, Bagi Jurusan Pendidikan Agama Islam STIT Aqidah Usymuni hendaknya dapat dijaga keasliannya agar bisa di gunakan untuk referensi selanjutnya sehingga menjadi koleksi dokumentasi dan bisa digunakan dikemudian hari jika diperlukan.
Penelitian ini hendaknya merupakan penghantar ke arah yang lebih baik pada lembaga MI An-Nidaul Islamiyah untuk terus menjaga dan meningkatkan kekompakan dan loyalitas personal agara terus meningkatkan mutu pendidikan yang ada di madrasah ini. Manajemen pendidikan yang kuat akan mempu meningkatkan kualitas pendidikannya secara berkesinambungan.
Bagi peneliti penelitian ini merupakan pengalaman yang sangat berarti diusahakan agar tetap mempertahankan pengalaman ini menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Selanjutnya hasil penelitian ini dapat memberikan dampak positif pada orang lain terutama bagi peneliti lain agar dapat memberikan sumber inspirasi dan rujukan yang berguna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah dan Panduan Service Mesin Photocopy

PEMBELAJARAN PAI MELALUI PENDEKATAN KONTEKTUAL